89 views

PENGALAMAN PASTORAL KETIGA SEMINARIAN

FacebookTwitterWhatsApp
David, Konstend, Wilfred

Seminarian David, Seminarian Konstend dan Seminarian Wilfred

 

 

David GasikolSekembalinya dari Seminari dan ketika pertemuan bersama Uskup dan Para Seminarian Keuskupan Keningau, Uskup Cornelius memberitahukan kepada seorang rakan saya yang akan melakukan kerja pastoral untuk tahun ini dengan mengatakan “welcome to…” Manakala kepada saya, Uskup mengucapkan “welcome back”. Kedua-dua ucapan “welcome” yang telah digunakan membawa “ekspressi makna” yang berbeza. Ini bermakna, saya akan kembali melakukan kerja-kerja pastoral atau “Pastoral Immersion” di Paroki Katedral St. Francis Xavier, Keningau.

Di dalam renungan peribadi saya, setiap ekspressi membawa makna dan seterusnya pengalaman yang sangat berbeza-beza. Walaupun telah melakukan kerja-kerja pastoral di tempat yang sama, tetapi pengalaman ber-pastoral di Katedral SFX adalah sangat-sangat berlainan dan sentiasa diperbaharui. Antara pengalaman ber-pastoral di Paroki Katedral ini termasuklah melawat orang sakit, memimpin Ibadat Sabda hari minggu, memimpin Upacara Pengebumian,memimpin rekoleksi, memberi ceramah, membantu dalam perayaan Jubli Emas Pusat Pastoral Keuskupan (PPK), dan banyak lagi.

Memang tidak dapat dinafikan bahawa, pengalaman ber-pastoral di KSFX sungguh tidak dapat saya lupakan. Komuniti-komuniti di Paroki Katedral ini juga sangat “hidup dan aktif” yang tentu sekali menjadi kerinduan saya akan kehidupan yang sibuk. Kehidupan harian para pederi yang melayani di Katedral ini juga sungguh-sungguh memberikan saya sedikit-sebanyak gambaran akan realiti kehidupan sebagai seorang paderi keuskupan. Atas semua ini, pengalaman-pengalaman bersama seluruh warga KSFX telah membawa ekspresi ilahi yang meyakinkan saya “teruskan, Saya bersama kamu”. (Seminarian David Richard Gasikol)

Wilfred JamesMenjalani latihan pastoral merupakan satu perkara yang mengujakan. Ini adalah kerana ia merupakan satu tempoh yang dapat membantu para seminarian untuk melihat secara lebih dekat kehidupan seorang paderi, tugas, tanggungjawab, kegembiraan dan juga cabaran-cabaran yang mereka lalui. Sehubungan dengan itu, sudah tentu tempoh empat bulan menjalani latihan pastoral, telah juga memberikan saya peluang untuk memahami dan mendalami panggilan kepaderian.

Sememangnya kehidupan seorang Paderi itu bukanlah satu kehidupan yang mudah. Namun demikian, menjadi anggota Tubuh Kristus, saya melihat bahawa kehadiran umat adalah amat penting dalam kehidupan seorang paderi. Umat bukan sahaja menjadi penasihat/pengkritik setia, tetapi lebih dari itu ialah sahabat dalam pelayanan dan penyokong. Di samping itu satu perkara yang menyakinkan juga adalah, persaudaraan di kalangan para paderi, yang mana adanya sikap saling memahami dan membantu di antara satu dengan yang lain. Berdasarkan pengalaman ini, saya melihat kehidupan seorang paderi itu adalah sesuatu yang boleh dihidupi, ianya bukan mudah namun tidak juga susah. Doa dan kerendahan hati dalam menjalani kehidupan ini adalah faktor penting untuk setia melayani.

Banyak perkara telah saya lalui dan pelajari dari pengalaman empat bulan latihan pastoral. Saya bersyukur kepada Tuhan kerana telah memberikan saya peluang untuk melihat lebih jelas lagi akan perjalanan kehidupan seorang paderi. Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk berterimakasih kepada Fr. Claudius Andrew (Paderi Paroki, Gereja Roh Kudus Sook) dan Fr. Harry Dorisoh, yang mana telah banyak membantu saya untuk mendalami erti panggilan dan hidup kepaderian. Terima kasih juga kepada semua umat Paroki Gereja Roh Kudus, Sook, yang sentiasa menyokong saya dan mengajar saya akan apakah pelayanan paderi yang umat perlukan. Akhir sekali, perjalanan ini masih bersisa, mohon doakan saya selalu. Terima kasih! (Seminarian Wilfred James)

Konstend GnanapragasamAfter each year of Theology studies all the seminarians are sent for four months of pastoral work and I was sent to Saint Theresa’s Church at Tambunan, Sabah. I began my pastoral on the 10th of January and it was the first time I touched down in Sabah. To my amazement, the hilly landscape and green mountain range surrounded by paddy fields and vegetables plots truly touched my heart and brought fond memories of my childhood days where I used to live in a village (Kg Paya).

I am really impressed by the uniqueness of Tambunan culture which I have never experienced elsewhere. The community here really gives meaning to life through their fellowship by being together, sharing what they have and always giving thanks to God. I use the Malay words PEDAS to give meaning to their fellowship and translate the acronym in English which is ‘Praying, Eating, Drinking and Singing.’ Based on my experience here with the community, they love to pray, eat together, drink ‘tapai’ a local alcoholic drink which is made of rice and yeast and which ends in joyous singing. Through activities and fellowship I was able to see people from all walks of life such as teachers and leaders who came down to grassroots level to be with their communities.

Furthermore, their solidarity gave me a sense of belonging as a member in their community. There were many times that I went out with youths and their families for hiking or other activities such as visiting homes. They are united, kind and pray for each other as how Mother Theresa quoted , “The family that prays together stays together, and if they stay together they will love one another as God has loved each one of them. And works of love are always works of peace,” and I experienced love and peace through their fellowship and activities. Apart from the masses at the parish, I also went for masses at the houses for memorial and house blessings which made me realize that they focus on God on all the occasions by giving thanks and seeking strength during their time of sorrows and joys. I can see the community as how we can read in the Acts of the Apostles 2: 42, “These remained faithful to the teaching of the apostles, to the brotherhood, to the breaking of bread and to the prayers.”

I realized that they have moulded me on how to mingle, how to be simple and how to respect each other. This solidarity resembles a bridge to connect people with many differences of status, age and mindset. And my further reflection had brought me to understand the meaning of PEDAS into a deeper insight which is “Prayers Ensure Deep Authentic Solidarity.” I hope I can share my experiences from Tambunan to other places in the future by using the acronym PEDAS which through prayers we can ensure a deep authentic solidarity. I would like to end with a bible passage from the letter to the Hebrews 10:24 “And let us consider how we may spur one another on toward love and good deeds, not giving up meeting together.” (Seminarian Konstend Gnanapragasam)

SEMINAR PANGGILAN MENJADI PADERI KEUSKUPAN

priest 2

“TUAIAN SUNGGUH BANYAK, TETAPI PENUAINYA HANYA SEDIKIT” (MT 9:37)

Tarikh: 16 – 18hb Januari 2015

Tempat: Bundu Tuhan Retreat Center

Kelayakan

  • Sekurang-kurangnya lulus SPM dengan 4 kepujian atau yang setarat dengannya (lebih tinggi kelulusan lebih baik)
  • Sedang menunggu keputusan STPM
  • Ada pengalaman bekerja
  • Mempunyai kesihatan fizikal dan mental yang baik

 

Sila dapatkan borang penyertaan di pejabat paroki/mission

Tarikh tutup penerimaan : 03hb Januari 2015

 

 

“Sesungguhnya PANGGILAN adalah ANUGERAH TUHAN, bukan hal MEMILIH tetapi DIPILIH”

(Pope John Paul II)

priest 1

Mungkin anda telah dipilih?

Untuk menemukannya anda dialu-alukan menyertai seminar ini!!!

PADERI KEUSKUPAN

FacebookTwitterWhatsApp

SONY DSC

Wujudnya para Uskup yang dibantu oleh para paderi pada hari ini adalah di atas kehendak Yesus sendiri. Mereka adalah penyambung tugas para rasul untuk meneruskan karya penyelamatan-Nya.

Paderi yang dipilih Allah, menjadi lambang yang kelihatan dan menjadi alat dan wakil Kristus Imam abadi ditengah-tengah umat-Nya di dalam dua posisi:

1. Berdiri di hadapan umat Allah sebagai wakil Kristus yang sah, yang dengan nama dan kuasa-Nya mereka mewartakan/mengajarkan Sabda Allah (sebagai nabi), merayakan Sakramen-sakrame Gereja – mempersembahkan korban dan menguduskan (sebagai imam) dan membimbing/menggembalakan umat Allah (sebagai raja).

2. Berdiri di hadapan Allah sebagai wakil umat, mempersatukan mereka dan menyempurnakan persembahan rohani mereka untuk dipersatukan dengan korban Yesus Kristus.

Penyelaras Panggilan Paderi Keuskupan

Rev. Fr. Bonaventure Unting

Gereja St. Valentine

P.O. Box 309

89807 Beaufort, Sabah

Tel:087-226672