PENGALAMAN PASTORAL KETIGA SEMINARIAN

David, Konstend, Wilfred
Seminarian David, Seminarian Konstend dan Seminarian Wilfred

 

 

David GasikolSekembalinya dari Seminari dan ketika pertemuan bersama Uskup dan Para Seminarian Keuskupan Keningau, Uskup Cornelius memberitahukan kepada seorang rakan saya yang akan melakukan kerja pastoral untuk tahun ini dengan mengatakan “welcome to…” Manakala kepada saya, Uskup mengucapkan “welcome back”. Kedua-dua ucapan “welcome” yang telah digunakan membawa “ekspressi makna” yang berbeza. Ini bermakna, saya akan kembali melakukan kerja-kerja pastoral atau “Pastoral Immersion” di Paroki Katedral St. Francis Xavier, Keningau.

Di dalam renungan peribadi saya, setiap ekspressi membawa makna dan seterusnya pengalaman yang sangat berbeza-beza. Walaupun telah melakukan kerja-kerja pastoral di tempat yang sama, tetapi pengalaman ber-pastoral di Katedral SFX adalah sangat-sangat berlainan dan sentiasa diperbaharui. Antara pengalaman ber-pastoral di Paroki Katedral ini termasuklah melawat orang sakit, memimpin Ibadat Sabda hari minggu, memimpin Upacara Pengebumian,memimpin rekoleksi, memberi ceramah, membantu dalam perayaan Jubli Emas Pusat Pastoral Keuskupan (PPK), dan banyak lagi.

Memang tidak dapat dinafikan bahawa, pengalaman ber-pastoral di KSFX sungguh tidak dapat saya lupakan. Komuniti-komuniti di Paroki Katedral ini juga sangat “hidup dan aktif” yang tentu sekali menjadi kerinduan saya akan kehidupan yang sibuk. Kehidupan harian para pederi yang melayani di Katedral ini juga sungguh-sungguh memberikan saya sedikit-sebanyak gambaran akan realiti kehidupan sebagai seorang paderi keuskupan. Atas semua ini, pengalaman-pengalaman bersama seluruh warga KSFX telah membawa ekspresi ilahi yang meyakinkan saya “teruskan, Saya bersama kamu”. (Seminarian David Richard Gasikol)

Wilfred JamesMenjalani latihan pastoral merupakan satu perkara yang mengujakan. Ini adalah kerana ia merupakan satu tempoh yang dapat membantu para seminarian untuk melihat secara lebih dekat kehidupan seorang paderi, tugas, tanggungjawab, kegembiraan dan juga cabaran-cabaran yang mereka lalui. Sehubungan dengan itu, sudah tentu tempoh empat bulan menjalani latihan pastoral, telah juga memberikan saya peluang untuk memahami dan mendalami panggilan kepaderian.

Sememangnya kehidupan seorang Paderi itu bukanlah satu kehidupan yang mudah. Namun demikian, menjadi anggota Tubuh Kristus, saya melihat bahawa kehadiran umat adalah amat penting dalam kehidupan seorang paderi. Umat bukan sahaja menjadi penasihat/pengkritik setia, tetapi lebih dari itu ialah sahabat dalam pelayanan dan penyokong. Di samping itu satu perkara yang menyakinkan juga adalah, persaudaraan di kalangan para paderi, yang mana adanya sikap saling memahami dan membantu di antara satu dengan yang lain. Berdasarkan pengalaman ini, saya melihat kehidupan seorang paderi itu adalah sesuatu yang boleh dihidupi, ianya bukan mudah namun tidak juga susah. Doa dan kerendahan hati dalam menjalani kehidupan ini adalah faktor penting untuk setia melayani.

Banyak perkara telah saya lalui dan pelajari dari pengalaman empat bulan latihan pastoral. Saya bersyukur kepada Tuhan kerana telah memberikan saya peluang untuk melihat lebih jelas lagi akan perjalanan kehidupan seorang paderi. Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk berterimakasih kepada Fr. Claudius Andrew (Paderi Paroki, Gereja Roh Kudus Sook) dan Fr. Harry Dorisoh, yang mana telah banyak membantu saya untuk mendalami erti panggilan dan hidup kepaderian. Terima kasih juga kepada semua umat Paroki Gereja Roh Kudus, Sook, yang sentiasa menyokong saya dan mengajar saya akan apakah pelayanan paderi yang umat perlukan. Akhir sekali, perjalanan ini masih bersisa, mohon doakan saya selalu. Terima kasih! (Seminarian Wilfred James)

Konstend GnanapragasamAfter each year of Theology studies all the seminarians are sent for four months of pastoral work and I was sent to Saint Theresa’s Church at Tambunan, Sabah. I began my pastoral on the 10th of January and it was the first time I touched down in Sabah. To my amazement, the hilly landscape and green mountain range surrounded by paddy fields and vegetables plots truly touched my heart and brought fond memories of my childhood days where I used to live in a village (Kg Paya).

I am really impressed by the uniqueness of Tambunan culture which I have never experienced elsewhere. The community here really gives meaning to life through their fellowship by being together, sharing what they have and always giving thanks to God. I use the Malay words PEDAS to give meaning to their fellowship and translate the acronym in English which is ‘Praying, Eating, Drinking and Singing.’ Based on my experience here with the community, they love to pray, eat together, drink ‘tapai’ a local alcoholic drink which is made of rice and yeast and which ends in joyous singing. Through activities and fellowship I was able to see people from all walks of life such as teachers and leaders who came down to grassroots level to be with their communities.

Furthermore, their solidarity gave me a sense of belonging as a member in their community. There were many times that I went out with youths and their families for hiking or other activities such as visiting homes. They are united, kind and pray for each other as how Mother Theresa quoted , “The family that prays together stays together, and if they stay together they will love one another as God has loved each one of them. And works of love are always works of peace,” and I experienced love and peace through their fellowship and activities. Apart from the masses at the parish, I also went for masses at the houses for memorial and house blessings which made me realize that they focus on God on all the occasions by giving thanks and seeking strength during their time of sorrows and joys. I can see the community as how we can read in the Acts of the Apostles 2: 42, “These remained faithful to the teaching of the apostles, to the brotherhood, to the breaking of bread and to the prayers.”

I realized that they have moulded me on how to mingle, how to be simple and how to respect each other. This solidarity resembles a bridge to connect people with many differences of status, age and mindset. And my further reflection had brought me to understand the meaning of PEDAS into a deeper insight which is “Prayers Ensure Deep Authentic Solidarity.” I hope I can share my experiences from Tambunan to other places in the future by using the acronym PEDAS which through prayers we can ensure a deep authentic solidarity. I would like to end with a bible passage from the letter to the Hebrews 10:24 “And let us consider how we may spur one another on toward love and good deeds, not giving up meeting together.” (Seminarian Konstend Gnanapragasam)

ENAM ANGGOTA FSIC MERAYAKAN JUBLI PERAK

jubli

KOTA KINABALU – “Menyaksikan enam orang Sister Fransiskan memperbaharui kaul yang dilafazkan 25 tahun lalu, benar-benar menyentuh hati saya. Saya percaya, selama 25 tahun ini, para jubilarian ini telah menyentuh kehidupan ramai umat dan memperkenalkan Kristus kepada semua orang,” ujar Pn. Elizabeth Ann Paidis, salah seorang daripada 500 orang umat yang gembira meraikan enam orang jublirian FSIC.

Pada 4 Februari lalu, enam orang biarawati dari kongregasi Franciscan Sisters of the Immaculate Conception (FSIC) telah memperbaharui komitmen religius mereka sempena ulang tahun jubli perak mereka di Katedral Hati Kudus, Kota Kinabalu.

25 tahun lalu, Sister Christella Lim dari Beaufort, Suzana Guntabid dari Sandakan, Terecia Loukang dari Inanam, Lounah Pulis dari Limbanak, Carmen Cordova dari Sandakan, dan Joan Michael dari Kiulu melafazkan kaul pertama mereka pada 27 Februari, 1992.

Uskup Agung John Wong yang memimpin Misa Kudus dibantu oleh dua orang Uskup dari Keningau dan Sandakan serta Uskup Agung Emeritus John Lee. Turut hadir ialah Msgr Primus Jouil, Fr John Chong dari Kuching dan beberapa orang Paderi dari Keuskupan Agung KK dan Keningau.

Para jublirian tersebut memasuki Kongregasi FSIC pada tahun 1989, melafazkan kaul pertama mereka pada tahun 1992 dan mengucapkan kaul akhir pada 1997.

Selepas homili, para jubilarian memperbaharui kaul mereka seraya bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan di atas rahmat-Nya.

Dalam ucapannya selepas Misa, Uskup Agung John Wong mengucapkan tahniah dan berterima kasih kepada para jubilarian di atas pelayanan, komitmen dan kehidupan rohani mereka yang dicurahkan di pelbagai Gereja tempatan, sepanjang 25 tahun ini.

Prelatus itu juga menyuntik semangat para jubilarian itu agar meneruskan pelayanan mereka untuk memperkenalkan Kristus kepada semua orang di samping menjaga kesihatan mereka dengan baik.

Superior General FSIC, Sr Grace Deosing dalam ucapannya turut mengucapkan tahniah kepada para jubilarian dan berterima kasih kepada semua umat yang mendoakan serta membantu para jubilarian ini untuk bertumbuh dalam panggilan mereka.

Majlis meraikan enam orang jubilarian FSIC ini diteruskan di Pusat Paroki dengan acara makan bersama dan persembahan pentas. (sumber: Herald Malaysia Online).

PEMBAHARUAN KOMITMEN ANGGOTA ISKB

KENINGAU – Pada 09 Disember 2016 yang lalu, para anggota Institut Sekular Komuniti Betania (ISKB) telah memperbaharui komitmen pelayanan mereka di dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong, bertempat di Rumah Retret Keuskupan Keningau Tatal (RRKKT). Sebelum itu, para anggota ISKB telah menjalani retret tahunan selama 3 hari bermula pada 06 Disember sehingga 08 Disember bertempat di RRKK Tatal yang dikendalikan oleh para Sister Putri Karmel dari Pertapaan Karmel, Kaingaran, Tambunan.

img_2320

ISKB sehingga kini dianggotai oleh 19 orang anggota dan pada hari penuh makna ini, seramai 4 orang anggota memperbaharui Komitment Sementara iaitu Sdra. John Ambi, Sdra. Sebius Gatail, Sdri. Melita Petrus dan Sdri. Winnah Jude manakala 15 orang anggota lagi memperbaharui Komitmen Kekal mereka.

img_2325

Dalam homili, Bapa Uskup menyatakan amat penting untuk memperbaharui komitmen setiap tahun dan beliau menyatakan syukur kepada Tuhan kerana Komuniti Betania baru sahaj selesai retret tahunan mereka yang merupakan satu kesempatan untuk menilai, memperbaiki dan mempertingkatkan lagi komitmen kepada Yesus dan Gereja. Beliau juga menyatakan bahawa kita perlu belajar sikap mengambil serius (ambil berat) melayani Tuhan melalui umat dan gereja. “Setiap kita harus ingat siapa yang kita layani supaya pelayanan kita ini sungguh-sungguh kualitinya kekal dan terus dapat dipertingkatkan dan juga supaya komuniti kita menjadi satu komuniti yang boleh bersaksi. Maka itu, perlulah kita setiap hari menyatukan diri kita kepada Tuhan kerana itu adalah dasar yang penting dan Yesus adalah sumber kekuatan, kebijaksanaan dan ketabahan bagi kita”.

img_2337

Bapa Uskup juga menyatakan bahawa beliau amat bersyukur kerana anggota-anggota Komuniti Betania banyak membantu dalam pelbagai pelayanan di gereja seperti mengendalikan bilik barang-barang kudus, mengendalikan Rumah Retret Keuskupan Keningau Tatal & Pusat Ziarah Nulu Sosopon, melayani dalam Katekatikal, Rumah Mission, Kantin Keuskupan, Sakristan, Pemimpin Ibadat dan sebagainya. ISKB kini sudah dibangun selama 18 tahun dan wujudnya ISKB adalah kehendak Tuhan dan sehingga kini komuniti ini masih segar dan berdiri teguh.

Selepas Misa Kudus, diadakan sesi bergambar bersama Uskup dan majlis kesyukuran di dewan makan RRKK Tatal bersama dengan umat yang hadir.

img_2340

ISKB merupakan  suatu pergerakan sekular tempatan terdiri daripada umat awam, lelaki dan perempuan yang telah memilih untuk hidup tunggal (tidak berkahwin) bagi melayani Kristus dan Gereja-Nya.Diasaskan dan dibentuk oleh Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong dengan kerjasama Msgr Charles Chiew dan Rev Fr Patrick Jerome. Pengesahan pembentukan komuniti ini di peringkat Keuskupan disempurnakan oleh Uskup pada 27 Julai 1997 di Katedral St Francis Xavier, Keningau. Karisma ISKB adalah melayani sesuai dengan bakat, kemampuan dan kesempatan yang ada dalam pelbagai kegiatan di dalam keluarga, komuniti, Gereja dan masyarakat seperti seminar, retret, rekoleksi dan lain-lain tugas katekis.

ANGGOTA INSTITUT SEKULAR KOMUNITI BETANIA MELAFAZKAN KOMITMEN KEKAL

SONY DSC

Keningau – Institut Sekular Komuniti Betania atau lebih dikenali dengan singkatan ISKB, sekali lagi menyaksikan di mana Sdri. Marianna Gerald, ISKB menggabungkan seluruh hidupnya dengan Komuniti Betania. Bertempat di dewan terbuka Rumah Retret Keuskupan Keningau, Tatal (RRKKT), Sdri. Marianna Gerald, ISKB melafazkan komitmen kekalnya di hadapan Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong, selaku Pendiri Komuniti Betania dan disaksikan 500 umat yang hadir pada petang hari itu. Dalam perayaan Ekaristi ini, Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong ditemani oleh Rev Fr Charles Chiew dan Rev Fr Florian Marcus dari Keuskupan Agung Kota Kinabalu.

SONY DSC

Di dalam kata pembukaan, Bapa Uskup menjelaskan kepada umat beriman bahawa perayaan pada petang hari itu adalah momen penting. Ini kerana, ada calon yang mahu menyerahkan seluruh hidupnya di dalam pengabdian kepada Tuhan melalui komuniti ini. Ini membuktikan bahawa Tuhan masih turut bekerja di dalam peribadi-peribadi yang selalu mencari kehendak-Nya bagi hidup mereka.

SONY DSC

Bapa Uskup dalam homilinya berkata, cara hidup seperti seorang paderi, religius mahupun komuniti sekular kurang mendapat sambutan dari para belia. Hidup ini dipandang sudah ketinggalan zaman dan tidak mendapat tempat di dalam hati mereka. Anak-anak zaman ini disodorkan dengan pelbagai macam tawaran dunia sehinggakan apa yang sifatnya rohani, sudah tidak dipandang lagi. Namun, masih ada peribadi-peribadi yang merindukan untuk menyerahkan hidupnya bagi Tuhan. Dan Sdri. Marianna Gerald telah menyahut tawaran Tuhan dan mahu menyerahkan hidupnya sebagai anggota penuh Komuniti Betania dan melayani Tuhan dengan karisma yang ada di dalam ISKB.

SONY DSC
Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong menyarungkan cincin ke jari Sdri Marianna Gerald ISKB

Para paderi, religius mahupun anggota komuniti sekular diminta untuk menjadi saksi-saksi yang hidup. Saksi akan kehadiran Tuhan Yesus di dunia dan di dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kesaksian yang nyata, tidak mungkin orang pada zaman ini tertarik untuk mengenali peribadi Yesus. Beliau berpesan bahawa untuk dapat menjadi saksi yang hidup dan berkesan, setiap pengikut Kristus haruslah memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan. Tanpa hubungan yang akrab, tidak mungkin lidah kita mampu mengakui bahawa Yesus adalah Tuhan. Tidak mungkin dapat menjadi saksi ditengah-tengah dunia pada zaman ini.

Bagaimana memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan? Bapa Uskup berpesan, hidup doa jangan pernah dilupakan. Tanpa hidup doa yang teratur, seseorang akan semakin menjauh dari peribadi Yesus. Doa adalah makanan utama setiap orang kristian. Selalu membaca dan merenungkan firman Tuhan. Firman Tuhan adalah surat cinta Tuhan kepada anak-anak-Nya dan berisi dengan janji-janji yang akan dipenuhi-Nya. Jika firman Tuhan sudah berakar di dalam hidup, firman Tuhan akan menjadi pelita dan terang yang akan menerangi langkah hidup seseorang. Selalu hadir di dalam Adorasi mahupun Saat teduh, terlebih mengikuti perayaan Ekaristi dan menerima Sakramen-Sakramen terutama Sakramen Rekonsiliasi.

Lima anggota Institut Sekular Komuniti Betania melafazkan komitmen sementara
Lima anggota Institut Sekular Komuniti Betania melafazkan komitmen sementara

Dalam masa yang sama, lima anggota Institut Sekular Komuniti Betania melafazkan komitmen sementara mereka. Mereka-mereka ini adalah Sdr. John, Sdr. Sabius, Sdri. Malita, Sdri. Winnah dan Sdri. Lucia (yang pada bulan Januari 2016 akan melafazkan komitmen kekalnya di Keuskupan Agung Kota Kinabalu).

Seusai perayaan Ekaristi dan pelafazan komitmen kekal Sdri. Marianna Gerald, ISKB, para tetamu dijemput untuk datang ke dewan RRKKT untuk bersama menjamu makam malam bersama. Makan malam menjadi meriah apabila diiringi dengan tarian dan nyanyian dari umat yang hadir.

SONY DSC

PELAFAZAN KAUL KEKAL KEDUA ANGGOTA KONGREGASI FRANCISCAN SISTERS OF THE IMMACULATE CONCEPTION

SONY DSC

Tambunan – “Kasih Kristus yang menguasai kami” (2Kor 5:14) menjadi moto bagi kedua Sister yang melafazkan kaul kekal pada sabtu yang lalu (16/01). Di hadapan Mother General FSIC, Sr. M. Grace Deosing FSIC, kedua mempelai Kristus iaitu, Sr. M. Lucynia Jeprin FSIC dan Sr. M. Liza Anggie, FSIC dan disaksikan seramai 2500 umat yang turut hadir, kedua mempelai Kristus ini menyatakan kesanggupan mereka untuk menghayati ketiga kaul (kemiskinan, kemurnian dan ketaatan) menurut Peraturan Hidup “Third Order Regular of St. Francis of Assisi” yang disahkan oleh Santo Yohanes Paulus II dan “Constitutions of the Franciscan Sisters of the Immaculate Conception”.

SONY DSCBapa Uskup Datuk Cornelius Piong selaku selebran utama, dan disertai berpesan kepada umat yang hadir, bahawa kehadiran mereka di dalam perayaan ini bukanlah sebagai penonton belaka, melainkan turut serta di dalam mendukung panggilan kedua mempelai Kristus ini dan juga mendoakan agar ramai belia yang terpanggil untuk menyahut panggilan menjadi seorang paderi atau seorang religius.

Selanjutnya, Bapa Uskup berpesan bahawa peristiwa yang disaksikan oleh umat pada hari itu, adalah peristiwa yang bermakna, dimana kedua mempelai Kristus ini dengan rela mahu menyerahkan seluruh hidup mereka hanya untuk menyenangkan hati Tuhan. Peristiwa semacam ini hendaklah memberi inspirasi kepada ibubapa agar berdoa dan mohon supaya ada anak-anak mereka yang dipanggil untuk menjadi seorang paderi ataupun religius.

SONY DSC

 

SONY DSC

Sr. M. Lucynia Jeprin FSIC dan Sr. M. Liza Anggie, FSIC berlutut di hadapan Sr. M. Grace Deosing, FSIC selaku Mother General dan melafazkan ketiga kaul-kaul mereka dan atas nama Gereja dan Kongregasi FSIC, Mother General menerima pelafazan kedua mempelai Kristus ini ke dalam keluarga besar Kongregasi Franciscan Sisters of the Immaculate Conception. Selanjutnya, Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong menyarungkan cincin ke jari kedua mempelai sebagai tanda bahawa mereka adalah milik Kristus dan berusaha untuk tetap setia tanpa cela di dalam mencintai-Nya di atas segala sesuatu. Mereka juga menerima buku doa harian yang memiliki erti dan harapan bahawa pujian syukur kepada Bapa Syurgawi menjadi sebati dalam diri mereka dan berdoa tanpa henti untuk penyelamatan jiwa-jiwa. Seusai penyerahan cincin dan buku doa harian, Sr. M. Grace Deosing, FSIC menyatakan kepada kedua Sister tersebut dan disaksikan oleh umat yang hadir, bahawa kedua mempelai ini menjadi anggota penuh di dalam Kongregasi FSIC dan segala sesuatu yang dimiliki oleh Kongregasi adalah milik mereka juga dan bersama.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Sesi ucapan didahului oleh Puan Helen Gurini selaku Pengerusi MPP, Gereja Holy Cross Toboh berkata, upacara pada hari ini adalah peristiwa pertama yang diadakan di Gereja HTC. Peristiwa ini amat bermakna dan diharapkan lebih ramai lagi para belia yang terdorong untuk menyahut panggilan menjadi seorang paderi mahupun religius. Selanjutnya Sr. M. Liza Anggie, FSIC di dalam ucapannya, menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong yang berkenan merayakan perayaan Ekaristi pada hari itu, kepada Kongregasi FSIC yang berkenan menerima mereka menjadi anggota penuh di dalam Kongregasi dan kepada ibubapa dan adik-beradik yang menyokong perjalanan panggilan mereka dan umat yang hadir menyaksikan upacara pelafazan pada hari itu. Dan Bapa Uskup pula menyentuh perihal hubungan yang akrab dengan Tuhan Yesus. Tanpa relasi yang akrab dengan Tuhan, panggilan tidak akan bertahan. Untuk itu, hidup doa harus mendapat prioriti yang utama.

SONY DSC

SONY DSC

Seusai perayaan Ekaristi, kedua mempelai yang berbahagia bersama tetamu-tetamu undangan berarak ke dewan terbuka HTC untuk sama-sama menjamu makan tengahari sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC