SantapanRohani1

ADVENT??? MASA PENANTIAN PENUH PENGHARAPAN.

FacebookTwitterWhatsApp

HARI MINGGU ADVEN PERTAMA

 Bc.1. Yes 63:16b-17               64:1.3b-8 Bc.2. 1Kor 1:3-9                 Bc.3. Mrk 13:33-37

 Selamat memasuki tahun baru liturgi iaitu Tahun B. Kita memulakan Tahun liturgi dengan masa Adven. Adven adalah masa penantian yang penuh pengharapan. Masa penantian bukan bererti kita menunggu seperti menunggu bas di bus stop, tetapi selama masa penantian ini kita harus lebih bersungguh-sungguh dan bertekun dalam doa dan pertobatan. Tuhan mahu datang dalam hidup kita, marilah persiapkan diri dengan sungguh-sungguh.

adventweb

Pada hari ini, Gereja Katolik memasuki Tahun liturgi yang baru iaitu Tahun B. Setiap tahun liturgi akan dimulakan dengan Minggu Adven yang pertama. Dengan Minggu pertama Adven, Gereja memulai Tahun Liturgi yang baru. Dengan demikian, ada kesinambungan antara akhir tahun Liturgi – ketika fokus bacaan adalah tentang akhir zaman dengan perayaan puncaknya ialah Hari Minggu Kristus Raja – dan dengan awal tahun Liturgi, ketika kita kembali mempersiapkan kedatangan Kristus yang kedua kali.

Bahasa Latin “Advenus” dan bahasa Inggris “Advent”, kedua-duanyan berarti “kedatangan”. Adven adalah suatu masa untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan.  Dalam Perjanjian lama masa Adven merupakan masa penantian yang panjang , umat Allah menantikan kedatangan Mesias, karena itu Adven merupakan persiapan Natal. Adven juga merupakan persiapan untuk kedatangan Tuhan yang kedua kali pada akhir zaman. Pada mulanya Adven berlangsung selama enam minggu. Paus Gregorius Agung (591-604) telah mempersingkat masa Adven menjadi empat minggu. Selama empat minggu ini, Gereja mengenang dua kedatangan Tuhan iaitu kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali (di akhir zaman) dan juga mengenang kedatangan Tuhan ke dunia (inkranasi) yang disambut dan dirayakan pada hari Natal. Selama empat minggu, fokus perayaan liturgi adalah, minggu pertama kedatangan Kristus kedua kali pada akhir zaman. Minggu berikutnya bergeser kepada persiapan kehidupan Kristus di depan umum, dan pada minggu keempat fokus bergeser ke Maria yang mempersiapkan kelahiran Kristus.

Setiap Minggu dalam masa Adven ada lilinnya sebagai simbol dan memiliki ertinya masing-masing. Warna dominan selama masa Adven adalah unggu yang melambangkan pertobatan. Warna ungu mengingatkan kita bahawa Adven adalah masa di mana kita mempersiapkan jiwa  untuk menerima Kristus pada Hari Natal.

Bagi mereka yang biasa membuat lingkaran Adven, empat batang lilin diletakkan di sekeliling lingkaran Adven, tiga lilin berwarna ungu dan dan satu lagi berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven, iaitu masa persiapan kita menyambut Natal. Setiap hari, dalam bacaan liturgi khususnya bacaan pertama diambil dari Perjanjian Lama yang mengisahkan tentang penantian bangsa Yahudi akan datangnya Sang Mesias, sementara bacaan dari Perjanjian Baru akan memperkenalkan tokoh-tokoh penting selama Kisah Natal. Pada awal Masa Adven (minggu Adven pertama), sebatang lilin dinyalakan, kemudian setiap minggu berikutnya lilin lain akan dinyalakan. Dari minggu ke minggu jumlah ilin yang menyala semakin banyak dan cahayanya pun semakin terang, mengingatkan kita bahawa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat. Kita pun dituntut agar semakin mendekat pada Kristus Sang Terang melalui jalan pertobatan dan pembaharuan diri.

Minggu Adven I dengan Lilin pertama yang berwarna ungu adalah minggu pengharapan kerana nubuat para nabi tentang kedatangan Mesias akan segera tergenapi maka diserukan supaya berjaga-jaga, “berhati-hatilah dan berjaga-jagalah”(Luk 21: 36). Harapan umat dalam Perjanjian Lama akan kedatangan Sang Mesias akan tergenapi maka perlu mempersiapkan diri dan berjaga-jaga untuk menyambut kedatangan-nya. Minggu Adven II dengan Lilin Adven yang berwarna unggu adalah minggu cintakasih. Minggu cintakasih kerana kedatangan Mesias akan memberi pengampunan atas segala dosa bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Maka Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan dan memberi diri dibaptis. “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu” (Mrk 1:4).

Minggu Adven III dengan lilin Adven yang berwarna merah muda/pink adalah minggu sukacita (Gaudete). Sukacita kerana “Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang dating ke dalam dunia” (Yoh 1:9). Minggu Adven IV dengan lilin Adven yang berwarna unggu adalah minggu damai dan keselamatan. Damai kerana hanya sesaat lagi kerana Mesias Sang Terang Dunia akan hadir ke dunia. “Dan inilah tandanya bagimu: kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk 2:12). Sukacita dan damai sejahtera dirasakan, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14). Lilin yang dinyalakan satu persatu setiap minggu menandakan persiapan yang makin dekat dan makin sungguh-sungguh, iaitu perjalanan hidup yang makin dekat kepada Tuhan. Lilin yang dinyalakan, mengarahkan jiwa kita agar sentiasa tertuju pada kesucian.

Dalam Gereja Katolik, semangat yang dominan dalam Masa Adven adalah penantian dan pengharapan. Pedoman Umum Tahun Liturgi dan Penanggalan Liturgi yang dikeluarkan oleh Vatikan pada 1969 mengatakan Adven adalah “suatu masa penantian yang saleh dan penuh sukacita”. Cukupkah dengan hanya penantian dan pengharapan?.  Adven adalah masa pertobatan. Pertobatanlah yang menjadi fokus liturgi masa ini dengan mengutip pewartaan para nabi, khususnya Yohanes Pembaptis, “bertobatlah karena Kerajaan surga sudah dekat”(Mat 3:2).

Adven sesungguhnya merupakan persiapan untuk menyongsong dua peristiwa Adven bagi diri kita masing-masing, iaitu saat Yesus datang kedua kalinya di saat kematian kita, dan di akhir zaman kelak. Oleh karena itu, seluruh hidup kita juga hendaknya menjadi masa Adven. Kita menantikan dengan penuh harap, Kristus yang telah pernah datang dalam sejarah manusia, dan yang sentiasa datang dalam Ekaristi, khususnya dalam perayaan Natal setiap tahun; dan juga yang akan datang lagi di akhir hidup kita kelak.

Adven adalah penantian yang penuh sukacita kerana penantian kita itu adalah pasti (penuh pengharapan). Renungkanlah, kalau kita sungguh mengasihi Dia, seharusnya kedatangan-Nya tidak membuat kita ketakutan atau kurang yakin, tetapi semestinya membuat kita bersuka cita. Namun masalahnya adalah, sudahkah kita bersiap menantikan Kristus? Kesedaran akan makna Adven mendorong kita untuk mengubah pusat hati dan hidup kita, dari diri sendiri kepada Kristus. Jika kita memusatkan hati kepada Kristus, kita akan berusaha melakukan kehendak-Nya, iaitu tugas- tugas yang dipercayakan-Nya kepada kita (bdk. Mrk 13:34). Jika kita mengarahkan hati kepada Terang ilahi-Nya, kita akan dapat melihat segala dosa kita yang menghalangi pertobatan dan hubungan kita dengan Tuhan (bdk. Yes 64:6). Kesedaran akan makna Adven memberi kekuatan untuk menyesali dan mengakui segala dosa dan kelemahan di hadapan Allah. Dan jika kita mengandalkan kasih karunia-Nya, kita tidak akan berkekurangan dan juga selalu diteguhkan sampai akhir (bdk. 1Kor 1:7-8). Hanya dengan sikap berjaga- jaga semacam inilah kita akan dapat memiliki suka cita dalam menantikan kedatangan-Nya.

Maka, di masa Adven ini, Gereja mengajak kita untuk lebih rajin dan aktif memeriksa batin, untuk melihat serta menyedari adakah hal-hal yang menghalangi kita untuk menyambut kedatangan Tuhan? Apakah mata hati kita masih dibutakan oleh banyak hal duniawi? Apakah kita cenderung malas (rohani tertidur) dan tidak pernah memikirkan bagaimana kita menyambut kedatangan Tuhan yang pasti terjadi dalam kehidupan kita? Masa Adven adalah masa penantian yang mengajak kita kembali bertekun dalam doa, agar kita mengalahkan kecenderungan untuk menjadi hangat-hangat tahi ayam dalam menyatakan iman, harapan dan kasih kepada-Nya. Renungkanlah semuanya itu dengan penuh perhatian, dan di atas semua itu, pusatkanlah perhatian kepada Dia yang akan datang; pikirkanlah bila Ia akan datang, dan di mana Ia akan datang; renungkanlah maksud kedatangan-Nya, kegenapan waktu kedatangan-Nya, dan bagaimana serta apa cara yang dipilih-Nya untuk datang.

Jika dipikirkan secara logika, Yesus Kristus mahu datang tetapi ketika Ia datang, dimanakah tempat-Nya?. Suatu tempat yang bersih, bebas dari noda-noda harus dipersiapkan untuk Yesus Kristus. Tempat itu adalah peribadi setiap umat. Maka, masa Adven adalah masa mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya. Melalui penyesalan dan pertobatan, termasuk merayakan Sakramen Rekonsiliasi, kita harus membersihkan noda-noda hati kita supaya ketika Yesus Kristus datang, Ia menemukan tempat yang bersih di dalam diri kita.

Mari kita sambut masa Adven ini dengan hati yang sentiasa terarah kepada Tuhan Yesus – Sang Juru Selamat, Sang Terang yang sesungguhnya – dengan hati yang penuh pengharapan. Semoga Bonda Maria membantu kita dalam masa Adven ini, untuk merenungkan misteri kelahiran Puteranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Seperti pikiran dan hati Bunda Maria terarah seluruhnya kepada Kristus saat menantikan kelahiran-Nya, semoga pikiran dan hati kitapun terarah kepada Kristus selama masa Adven ini. Semoga dengan demikian Tuhan Yesus mendapati kita dalam keadaan berjaga dan layak menerima kedatangan-Nya.


Cadangan Soalan untuk Refleksi peribadi dan perkongsian Komuniti Kristian Dasar (KKD)

Adven sudah tiba. Seharusnya iman kita bangun dari tidur lena, sedar dari mimpi-mimpi indah. Masa Adven adalah masa persiapan, masa penantian yang penuh dengan pengharapan. Marilah kita menghayati masa Adven ini dengan penuh harapan dan sukacita.

  1. Apakah erti Adven bagi diri anda?
  2. Apakah yang anda lakukan selama masa Adven? Buatlah niat yang mudah dan sanggup anda lakukan, tetapi harus anda laksanakan dengan penuh kesungguhan, setia dan komited.

Kami bersyukur kepada-Mu, ya Bapa atas perjamuan Ekaristi yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Semoga, kami tetap teguh berharap untuk menikmati perjamuan syurgawi yang Kaujanjikan seraya bertekun dalam mewujudkan iman

 

KRISTUS RAJA AGUNG

FacebookTwitterWhatsApp

HARI BESAR KRISTUS RAJA

Bc.1. Yeh 34:11-12.15-17      Bc.2. 1Kor 15:20-26.28      Bc.3. Mat 25:31-46

Sejak kita mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita juga mengakui bahawa Dialah yang merajai hidup kita. Kristuslah Raja dan kita adalah pengikutnya. Hari ini kita merayakan Minggu Kristus Raja. Raja adalah salah satu dari martabat Kristus. Sebagai Raja, Kristus selalu dan sentiasa peduli pada kehidupan kita, Ia bertindak sebagai Gembala dan kita adalah kawanan domba-Nya. Marilah kita agungkan Dia sebab dialah Sang Raja Agung, Raja di atas segala Raja, Raja yang telah memberikan nyawa-Nya sendiri demi keselamatan seluruh bangsa.

Kristus Raja Agung

Seorang raja dikenal buka dari kedudukannya sebagai raja tetapi dari perbuatannya terhadap rakyatnya. Raja adalah penguasa tertinggi pada suatu kerajaan yang meliputi wilayah kekuasaan dan Rakyatnya. Gelaran raja agung juga tidak mudah untuk diperolehi. Pemberian gelar yang “agung” bererti seseorang itu diakui sebagai orang hebat dan telah melakukan hal-hal yang tidak biasa namun sungguh memberi suatu yang sangat berharga kepada banyak orang. Contohnya, dalam sejarah kuno, Aleksander III dari Makedonia (20/21 Juli 356 – 10/11 Juni 323 SM), pada waktu itu merupakan raja Kekaisaran Makedonia. Beliau diberi gelar Iskandar Agung kerana wilayah kekuasaannya sangat luas. Pada usia tiga puluh tahun, dia memimpin sebuah kekaisaran terbesar pada masa sejarah kuno, membentang mulai dari Laut Ionia sampai pergunungan Himalaya. Dia tidak pernah kalah dalam peperangan dan dianggap sebagai komandan  perang terhebat sepanjang masa. (sumber dari Wikipedia). Santo Yohanes Paulus II adalah paus ke tiga yang mendapat gelar “agung”. Beliau diberi gelar agung kerana keunggulannya dalam pelayanan dan pengaruh besar terhadap perdamaian dunia.

Hari ini kita merayakan pesta Hari Minggu Kristus Raja. Kristuslah raja di atas segala raja, Kristus adalah Raja Agung. Tentu saja Kristus adalah raja Agung kerana perbuatan-perbuatan-Nya yang sangat mengkagumkan, serta kuasa-Nya yang melampaui segala kuasa, namun juga kerana kerendahan hati-Nya dalam tindakan cintakasih. Sebelum memahami lebih dalam tentang Kristus Raja Agung, sebaiknya kita mengetahui apa ertinya Kristus menjadi raja dan perbandingan Kristus sebagai Raja dengan raja-raja duniawi.

Sejak Perjanjian Lama sudah digambarkan/dinubuatkan bahawa Mesias adalah raja. Ramalan itu telah dipenuhi dalam Kristus. Ia adalah raja. Ia memiliki martabat ini sejak saat pertama Ia menjadi manusia. Anak di palungan adalah raja (bdk. Mat 2:11). Dia yang duduk di atas keledai dan masuk ke Yerusalem adalah raja:  “Rajamu datang kepadamu sekarang; Ia lemah lembut dan menunggang seekor keledai” (Mat 21:5). Orang yang dihina dan disiksa dan yang berdiri di depan Pilatus untuk diadili adalah raja: “Engkau mengatakan bahawa Aku adalah raja.” (Yoh 18:37). Mesias datang dari Suku Yehuda memerintah sebagai Raja (Kej 49:10). Allah Bapa meneguhkan Putra-Nya sebagai Raja di Yerusalem (Maz 2:6). Mesias memiliki kerajaan yang Kekal (2 Sam 7:16)

Apakah ertinya bahwa Kristus itu raja?. Raja adalah seorang yang dipilih dan diutus (Allah yang memilih dan mengutus). Ia seorang yang memerintah bangsa dalam nama Allah, seorang yang dilengkapi dengan kekuasan penuh. Kerajaan bererti kekuasaan yang absolut/mutlak dan universal; kewibawaan/kekuasaan ilahi bersinar dari raja; kebijaksanaan dan pandangan ilahi adalah milik-Nya. Raja adalah seorang yang kuat dan berani. Di dalam kerajaan-Nya, raja adalah sumber kehidupan dan kesejahteraan. Ia memerintah menurut hukum secara bijaksana, ia menjatuhkan segala ketidakadilan dan menghukum segala kejahatan. Orang yang tertindas, menderita, diasingkan ketika datang kepada-Nya akan merasa aman damai di samping-Nya. Raja adalah orang yang memimpin bangsanya di medan perang. Kristus Raja memimpin perang terhadap kejahatan yang datang dari Iblis. Kristus sebagai raja adalah pemimpin yang adalah pelayan (Mat 20:28), dan Sang Gembala yang Baik (Yoh : 1011).

Kristus  sabagai Raja sangat berbeza apabila dibandingkan dengan raja-raja lain di dunia. Raja-raja di dunia seringkali harus mempertahankan kerajaan mereka melalui pertumpahan darah di medan perang atau lewat berbagai teknik pemerintahan yang berbau darah. Ada banyak cerita tentang perebutan kekuasaan antara raja-raja: raja melawan raja, satu lawan satu sampai salah satu dari mereka mati terbunuh. Yang hidup menjadi pemenang. Walaupun ada raja- yang baik dan memperhatikan kesejahteraan rakyat mereka, tidak sedikit pula ada raja yang bersikap dan berperilaku sebagai penindas; mereka membebani rakyat dengan pajak-pajak dan upeti-upeti yang berat dan hanya menambah penderitaan rakyat saja. Namun kekurangan raja dunia adalah, baik itu raja yang baik atau jahat, wilayah kekuasaan besar atau kecil, tetapi pemerintahan mereka tidak kekal, semuanya berakhir dengan kematian.

Sangat berbeza  dengan Kristus Raja. Yesus tidak memenangkan kerajaan-Nya dengan pertumpahan darah, namun melalui pencurahan darah-Nya di kayu salib (bdk.  Kol 1:20). Musuh-Nya bukan raja lain atau kelompok orang, melainkan DOSA.  Walaupun Kristus mati, tetapi justeru melalui kematian-Nya, Dia bukan saja memperoleh kemenangan tetapi telah memenangkan manusia dari kuasa DOSA. Kerajaan Kristus adalah kerajaan kebenaran dan damai-sejahtera, kerajaan cintakasih,  sebuah kerajaan yang dipenuhi dengan kekudusan dan rahmat, sebuah kerajaan penuh keadilan dan kasih. Makna yang paling berharga dari semua  itu adalah, bahwa kematian bukanlah akhir dari martabat Kristus sebagai Raja, melainkan merupakan kebangkitan-Nya dan memerintah sebagai Raja di atas segala Raja. Kristus sudah memerintah, dan kekuasaannya sebagai raja akan penuh pada masa Ia datang kembali.

Kristus Raja Agung. Kerana telah membebaskan manusia dari ketakutan dan ancaman besar iaitu kuasa dosa yang mendatangkan maut kepada manusia. Kristus menyelamatkan bukan hanya sekelompok manusia tetapi telah mengorbankan diri-Nya sendiri demi keselamatan semua bangsa manusia. Melaksanakannya bukan dengan kekerasan atau pertumpahan darah tetapi menyelamatkan dan melindungi umat manusia dengan Roh Kebenaran dan Firman. Kristuslah raja (kepala) Gereja yang secara universal (wilayah yang tidak dapat diukur). Kerajaan-Nya tidak akan pernah berakhir tetapi akan berkekalan. Kerajaan-Nya yang bersifat rohani bukan duniawi. Kerajaannya yang akan berkekalan itu telah ada, dahulu, kini (masa sekarang), akan datang (kedatangan-Nya yang kedua kali) dan berkekalan sampai selama-lamanya. Kristus Raja Agung, memerintah dan berkuasa atas semua termasuklah seluruh alam ciptaan, terhadap semua bangsa manusia, bahkan kuasa kegelapan pun tunduk kepada-Nya.

            Kristus Raja Agung, memimpin kita bukan sebagai yang berkuasa tetapi sebagai pelayan dan gembala yang baik. Kita sebagai umat-Nya tidak pernah ditinggalkan-Nya. Walaupun Dia telah kembali ke pangkuan Bapa-Nya, Dia tetap menjaga, memelihara dan melindungi kita, melalui Kuasa Roh Kudus-Nya. Ia bertindak sebagai gembala yang baik. Dia sebagai gembala senantiasa menggembalakan kita sebagai kawanan domba-Nya. “Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akau Kubawa pulang, yang luka akau Kubalut, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana harusnya” (Yeh 34:16).

            Kristus Raja Agung akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya (Mat 25:31) dan pada saat kedatangan-Nya Ia akan mengadakan penghakiman terhadap domba-domba-Nya (umat). Penghakiman-Nya adalah penuh keadilan. Berangsiapa yang telah setia kepada-Nya akan diselamatkan (masuk dalam hidup kekal), sebaliknya barangsiapa yang tidak setia kepada-Nya akan masuk tempat siksaan kekal. Oleh hal yang demikian, marilah kita membangun sikap hidup yang setia dan komited kepada Yesus Kristus, Raja kita. Caranya adalah saling melayani antara satu dengan yang lain, terutama sekali kepada mereka yang miskin, kelaparan dan kehausan akan kebenaran, keadilan serta cintakasih, terhadap mereka yang disingkirkan dan diasingkan, mereka yang tidak memiliki harapan dan perlindungan (telanjang), mereka yang menderita sakit termasuk mereka yang mengalami krisis iman dan moral, dan mereka yang tertawan dengan situasi dan tekanan hidup yang memenjarakan mereka (bdk. Mat 25:35-45). “Segala sesuatu yang kamu lakukan terhadap salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya terhadap Aku ” (Mat 25:40).


Cadangan Soalan untuk Refleksi peribadi dan perkongsian Komuniti Kristian Dasar (KKD)

Sejak menerima Sakramen Pembaptisan, kita semua mendapat imamat umam iaitu ke-ikutsertaan dalam tiga tugas atau fungsi Kristus sebagai Nabi, Imam, dan Raja. Sesuai dengan perayaan hari ini iaitu Hari Minggu Kristus Raja, kita juga dipanggil untuk menjadi raja. Raja untuk diri kita sendiri iaitu memimpin hidup kita sendiri untuk sentiasa hidup dalam kesucian. Kita juga dapat bertindak sebagai raja dengan mengabdikan diri kepada Allah. Menjadi pelayan kepada sesama seperti Yesus yang datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani.


  1. Apakah selama ini anda menyedari bahawa anda telah pun menerima sakramen imamat umum iaitu menjadi imam, nabi dan raja?
  2. Setelah menyedari keikutsertaan dalam Tritugas Kristus sebagai Nabi, Imam, dan Raja, bersediakah anda untuk dipakai Tuhan sebagai alat dan saluran Rahmat-Nya kepada semua orang?

 

Ya Allah, kami bersyukur kepada-Mu kerana telah Kauperkenankan untuk ikut serta dalam perjamuan kudus-Mu. Kami mohon tinggallah di tengah-tengah kami dan sertailah kami dalam mengusahakan kerukunan, keadilan, dan damai sejahtera dalam masyarakat kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

SANTAPAH ROHANI

JADILAH ANAK-ANAK TERANG

FacebookTwitterWhatsApp

HARI MINGGU BIASA KE 33 (A)

Bc.1. Ams.31:10-13.19-20.30-31      Bc.2. 1Tes. 5:1-6       Bc.3. Mat 25:14-30

Semua orang memiliki talenta. Talenta itu adalah anugerah dari Tuhan. Talenta yang kita miliki harus dikembangkan, demi kebaikan diri kita sendiri, kebaikan orang lain, dan juga demi kebaikan komuniti. Kita diberikan talenta bukan kerana kita layak menerima talenta tersebut tetapi kita harus berusaha dengan baik untuk mengembangkan talenta yang kita miliki. Talenta itu juga bertujuan untuk mengabdikan diri kepada Allah. Sudah kita mengembangkan talenta yang kita miliki?

Jadilah Anak-anak Terang

Apa yang salah dengan hamba yang mendapat satu talenta itu? Kenapa dia tidak mengembangkan satu talenta yang dipercayakan kepadanya? Apakah dia tidak setuju kepada tuannya kerana diberi sedikit talenta sedangkan kawan-kawannya diberi lebih banyak? Persoalan mengenai talenta ini bukan tentang busines atau harta tetapi tentang tanggungjawab terhadap talenta yang dipercayakan oleh tuannya.

Perumpamaan tentang talenta menggambarkan kehidupan kita yang menantikan kembali Tuhan Yesus Kristus. Tuan yang mahu berpergian adalah Tuhan Yesus Kristus, yang sekarang sudah berada (kembali) ke pangkuan Bapa-Nya. Yesus sudah kembali (pergi) tetapi akan datang (pulang) lagi untuk menjemput para umat kesayangan-Nya.  Kedatangan-Nya adalah pada masa yang tidak diketahui (1 Tes 5 :1-2). Kerana itu kita yang menantikan kedatangan-Nya kembali tidak perlu mencari tahu bila Ia akan datang tetapi harus berjaga-jaga dan siap selalu.

Talenta itu adalah anugerah/karunia yang kita terima dari Allah. Anugerah/karunia yang paling besar dan berharga yang kita terima dari Tuhan adalah kehidupan. Perumpamaan talenta menggambarkan bahawa hidup ini adalah karunia. Setiap orang mendapat jumlah talenta yang berbeza-beza. Karuni kehidupan ini merupakan kesempatan bagi kita semua untuk mengembangkan talenta-talenta yang dipercayakan kepada kita. Ketika kita meninggalkan dunia ini dan juga ketika Yesus datang yang kedua kalinya, pertanggungjawaban atas talenta akan dituntut oleh-Nya dari kita masing-masing.

Dalam perumpamaan talenta ini, bukan bermaksud bahawa orang yang menerima banyak talenta harus melakukan/berbuat banyak dan mereka yang menerima sedikit talenta sedikit juga perbuatannya atau usahanya. Perumpamaan ini dengan tegas mengingatkan agar kita semua harus menjalani hidup dengan penuh tanggungjawab. Harus dengan usaha sungguh-sungguh, tidak boleh bermalas-malasan. Hidup ini sangat bererti bagi kita, hidup adalah suatu kesempatan. Jika disia-siakan dengan kemalasan, akan mengalami kesusahan kelak.

Kita hidup di dunia bukan tidak ada tujuannya. Manusia hidup di dunia kerana ada tujuannya yakni mengabdi kepada Allah sanga pemberi anugerah kehidupan. Bentuk pengabdian kepada Allah yang paling tinggi adalah penghargaan dan menjunjung tinggi anugerah kehidupan. Banyak cara yang boleh dilakukan untuk mengabdikan diri kepada Allah. Ada yang memberikan diri dan hidupnya secara penuh demi pelayanan. Ada pula yang secara sukarela mengabdikan diri dalam pelbagai jenis pelayanan. Semua itu adalah antara lain cara mengembangkan talenta yang dimiliki supaya menghasilkan buah yang banyak.

Dalam perumpamaan tentang talenta, Tuhan Yesus mengajarkan bahawa keselamatan akan kita peroleh bukan hanya hasil dari perjuangan moral-spiritual sahaja tetapi lebih kepada kesediaan, kesungguhan dan pertanggungjawaban kita dalam menghargai, memaknai, serta mengembangkan anugerah-anugerah kehidupan iaitu talenta yang dikaruniakan kepada kita. Setiap karunia yang kita terima (apapun jenis dan berapapun jumlahnya) bukan untuk kepentingan diri kita sendiri, bukan untuk disimpan atau disembunyikan, bukan pula disalahgunakan untuk mencari dan mendapatkan keuntungan, sebaliknya untuk dikembangkan, dibagikan dan untuk tujuan pelayanan demi perkembangan Gereja.

Setiap orang memiliki talenta menurut ukuran dan kemampuan masing-masing (Mat 25:15). Setiap orang memiliki talenta yang berbeza-beza. Itu bukan bererti berbeza tanggungjawab. Meskipun memiliki talenta yang berbeza, tetapi tanggungjawab setiap umat adalah sama yakni untuk saling melayani, saling melengkapi, saling berbagi, saling mengembangkan sehingga sama-sama menghasilkan buah yang berlimpah. Tidak boleh merasa tidak memiliki apa-apa, dan tidak boleh pula merasa memiliki segalanya sehingga tidak memerlukan kehadiran orang lain. Hakikat kehidupan kita sebagai makhluk sosial adalah, tidak dapat hidup dan berkembang sendiri tanpa orang lain. Setiap manusia memerlukan kehadiran orang lain supaya ia dapat bertumbuh dan berkembang secara sempurna. Inilh yang harus kita lakukan sebagai “anak-anak terang, dan anak-anak siang” (1 Tes 5:5), iaitu saling mengisi dan memberi dalam kasih. Oleh kerana itu jangan pernah merasa iri atau cemburu kalau talenta yang kita miliki itu berbeza dengan orang lain atau sedikit. Sebaliknya laksanakan tanggungjawab sesuai dengan kemampuan dan kebolehan berdasarkan talenta yang kita miliki.

Paulus dengan tegas memberi nasihat supaya kita hidup sebagai anak-anak terang. Jadilah anak-anak terang kerana kita “semua andalah anak-anak terang dan anak-anak siang” (1 Tes 5:5). Sebagai anak-anak terang kita tidak boleh bermalas-malasan dalam mengembangkan talenta yang kita miliki. Sebaliknya harus berjaga-jaga dan selalu sedar serta tidak hidup dalam dosa agar siap menyambut kedatangan Tuhan Yesus Kristus dan siap dituntut pertanggungjawaban atas kehidupan kita semasa di dunia.


 

Cadangan Soalan untuk Refleksi peribadi dan perkongsian Komuniti Kristian Dasar (KKD)

Hidup ini adalah anugerah, dan setiap kita diberi tanggungjawab untuk mengembangkan talenta yang kita miliki.

  1. Sudahkan anda mengetahui talenta-talenta yang anda miliki? Tuliskan semua talenta yang anda miliki dan buatlah catatan mana satu talenta yang sudah anda kembangkan dan mana yang masih kurang anda perhatikan. Buatlah niat untuk mengembangkan talenta yang masih kurang diperhatikan.
  2. Apakah reaksi anda terhadap talenta yang anda miliki? Adakan anda bersyukur?
  3. Selama ini apakah anda sudah mengembangkan talenta anda dengan semangat pengabdian kepada Allah?

 

Ya Allah, setelah menyambut anugerah misteri kudus ini, kami mohon dengan rendah hati semoga kenangan akan Putera-Mu yang kami rayakan ini, sesuai dengan perintah-Nya, menguatkan ikatan kasih kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa.

SANTAPAH ROHANI

SIAP SEDIALAH, BERJAGA-JAGALAH, JANGAN LALAI

FacebookTwitterWhatsApp

HARI MINGGU BIASA KE 32

Bc.1. Keb 6:13-17           Bc.2. 1Tes 4:13-18           Bc.3. Mat 25:1-13

Hidup ini adalah sebuah penziarahan. Selama penziarahan kita tidak pasti bila masanya kita meninggalkan kehidupan di dunia. Oleh kerana itu sangat perlulah untuk bersiap sedia dan selalu berjaga-jaga. Kesempatan hidup ini adalah kesempatan untuk menyiapkan dan melengkapkan diri supaya ketika Tuhan datang kita layak mengikuti-Nya masuk dalam kemuliaan-Nya. Kita perlu selalu sedar, jangan sampai lalai dalam mempersiapkan dan melengkapi diri. Marilah jadi orang bijaksanan seperti 5 gadis bijaksana.

Tema32WEB

Jika kita mengetahui ada tamu terhormat datang ke rumah, apakah yang akan kita lakukan? Biasanya tuan rumah akan sibuk mempersiapkan segalanya agar rumahnya layak bagi tamu yang datang. Tentu sahaja rumah akan dibersihkan, dihias, dan dilengkapi dengan alat-alat yang diperlukan. Bagaimana kalau tamu tersebut tidak memberi kepastian bila ia akan datang? Tentu saja tuan rumah mengalami kebingungan mahu mempersiapkan apa dan bila. Sementara itu hati tuan rumah juga pasti tidak tenang.

Perumpamaan gadis-gadis yang bijaksana dan bodoh menggambarkan kedatangan mempelai laki-laki pada waktu yang tidak pasti. Semua gadis telah mengetahui bahawa mempelai laki-laki akan datang pada bila-bila masa, sebab itu para gadis tersebut telah bersiap sedia untuk menyambut kedatangannya dan ikut serta dalam perjamuan kahwin. Gadis-gadis tersebut sememangnya sudah tahu apa yang harus dilakukan, yang harus disiapkan serta disediakan selama menantikan kedatangan mempelai laki-laki. Mereka harus mempersiapkan serta melengkapi diri dengan sebaiknya dan dengan penuh bertanggungjawab. Meskipun kedatangan sang mempelai laki-laki tidak diketahui, mereka harus berjaga-jaga dan sentiasa bersiap sedia. Pelita dan minyak menggambarkan persiapan dan persediaan diri para gadis tersebut. Pelita itu harus tetap menyala sehingga mempelai laki-laki datang supaya mereka dapat ikut ke perjamuan kahwin tanpa kekurangan minyak.

Tetapi tidak semua gadis tersebut menyiapkan dan melengkapi diri dengan baik. Lima gadis bijaksana telah mempersiapkan dan melengkapi diri sehingga ketika mempelai laki-laki datang mereka dapat ikut dalam perjamuan. Sebaliknya lima gadis lagi tidak dapat ikut dalam perjamuan kerana persiapan dan perlengkapan mereka tidak cukup. Lima gadis bodoh telah gagal menyiapkan dan melengkapi diri mereka.

Perumpamaan ini mengajarkan tentang apa yang akan terjadi pada saat Tuhan Yesus datang kembali untuk menjemput semua murid masuk dalam kemulian-Nya. Mempelai laki-laki adalah Yesus Kristus, kedatangan-Nya yang kedua kali tidak diketahui oleh umat. Para gadis adalah umat-Nya yang selalu berjaga-jaga untuk menantikan kedatangan Sang Mempelai laki-laki iaitu Yesus Kristus. Oleh kerana kedatangan Yesus tidak diketahui, semua umat haruslah selalu siap dan berjaga-jaga. Ketika Yesus datang, tidak ada kesempatan untuk bertobat bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri. Pintu perjamuan akan segera ditutup dan tidak akan dibuka kembali.

Sebagai umat-Nya, menjadi bijaksana seperti gadis-gadis bijaksana adalah tanggungjawab dan panggilan. Pelita harus tetap menyala dan dilengkapi dengan bekalan minyak. Pelita tersebut akan digunakan dalam perjalanan masuk ke dalam perjamuan bersama Tuhan. Untuk itu perlu selalu dan sentiasa mempersiapkan dan melengkapkan diri. Tidak cukup hanya mempersiapkan rumah kerana kedatangan tetamu tetapi hal yang lebih penting untuk disiapkan adalah diri kita yang akan menerima  dan menjemput  tetamu yang datang. Meskipun kedatangan tamu itu belum pasti tetapi perlu selalu siap.

Dalam masa persiapan atau semasa membuat persiapan perlu berhati-hati, jangan sampai ada yang lupa kerana kelalaian kita. Sebab itu perlu ada kesedaran yang tinggi. Kesedaran akan diri sendiri yang lemah dan cenderung melakukan hak-hal yang tidak patut. Kesedaran bahawa Tuhan itu maha baik dan sentiasa berbelas kasih kepada umat-Nya. Kesedaran itu penting kerana dapat menjauhkan diri dari kesombongan yang membuat kita lalai dalam mempersiapkan diri. Alasannya adalah, ada kecenderungan dari kalangan umat yang merasa dirinya sudah siap, sudah hidup menurut kehendak Allah, seperti lima gadis bodoh. Demikian juga dalam hal mempersiapkan rumah kerana kedatangan tamu. Tuan rumah akan merasa siap jika sudah membersihkan rumahnya dan menyediakan segala perlengkapan yang diperlukan. Tetapi itu belum cukup kerana dia lupa menyiapkan dirinya. Kerana itu selama masih ada kesempatan untuk menyiapkan diri, janganlah lalai untuk bersiap sedia dan berjaga-jaga.


Cadangan Soalan untuk Refleksi peribadi dan perkongsian Komuniti Kristian Dasar (KKD)

Manusia adalah makhluk yang rapun, lemah dan terbatas. Jika seseorang hidup menurut dagingnya maka kerapuhan, kelemahan, keterbatasan akan membawanya d alam dosa. Tetapi jika seseorang itu hidup menurut Roh iaitu Roh Allah, justeru di dalam kelemahan, kerapuhan dan keterbatasannya, kemuliaan Allah dinyatakan kepada-Nya sehingga ia pun menjadi kuat dan bijaksana di dalam kelemahan dan kerapuhannya.

  1. Apakah kelemahan-kelemahan dalam diri anda? apakah sikap anda terhadap kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri anda?
  2. Apakah kelemahan-kelemahan anda membuat anda lalai dalam mendengar dan melaksanakan Firman Allah?

 


 Ya Allah, kami bersyukur atas perjamuan kudus-Mu ini. Teguhkanlah iman dan harapan kami akan kehidupan baru yang Kaujanjikan seraya kami berusaha untuk selalu berjaga-jaga dengan semakin menghayati cinta kasih kepada-Mu dan sesama. Dengan pengantaraan Kristus,Tuhan kami.

SANTAPAH ROHANI

MENJADI PEMIMPIN DAN PELAYAN YANG SEJATI

FacebookTwitterWhatsApp

HARI MINGGU BIASA KE 31 (A)

Bc.1. Mal 1:14b – 2:2b.8-10 Bc.2. 1Tes 2:7b-9.13 Bc.3. Mat 23:1-12

 

Masa sekarang semakin banyak orang yang pintar bercakap tetapi kurang pandai melaksanakan apa yang dikatakan. Peribahasa yang sesuai untuk orang yang seperti itu adalah “cakap tidak serupa bikin”, atau NATO (no action talk only). Apakah kita termasuk golongan orang seperti itu? Marilah kita belajar dari Yesus Kristus agar kita dapat menjauhkan diri dari kemunafikan dan kesombongan diri, supaya kita tidak seperti orang-orang yang “cakap tidak serupa bikin”.

5hb11

Dalam semua khotbah Yesus, belum pernah Ia bersikap begitu tegas terhadap kelompok mana pun kecuali terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat terutama sekali dalam bacaan Injil hari ini. Kritikan tegas itu disampaikan kerana tidak ada lagi yang lebih bertentangan dengan Injil selain dari perilaku dan tindakan generasi para pemuka agama masa itu yang  hanya berlandaskan pada kesombongan, keduniawian, kesewenang-wenangan yang dibalut serta berselindung di sebalik jubah agama.

Kritik Yesus terhadap para pemuka agama. Pertama, mereka tidak melaksanakan apa yang mereka khotbahkan/ajarkan (Mat 23:3), mereka munafik. Kedua, mereka tidak bersedia melakukan apa yang mereka perintahkan kepada para pengikutnya (Mat 23:4). Ketiga, mereka suka memperlihatkan diri (Mat 23:5), pelayanan yang mereka lakukan adalah untuk kepentingan diri sendiri. Keempat, mereka suka menerima penghormatan dari orang dan suka menerima gelar pujian (Mat 23: 6-10). Dengan kata lain, mereka gila hormat dan merampas Kemuliaan Tuhan. Kelima, mereka salah mengerti konsep pelayanan (Mat 23: 11-12). Orientasi pelayanan mereka adalah diri sendiri.

Banyak kelebihan orang Farisi dan ahli Taurat. Tuhan Yesus sendiri mengakui mereka bahkan mengatakan bahawa pengajaran mereka harus didengar oleh para pengikut-Nya. Ketekunan dan kesetiaan mereka dalam mengajarkan hukum-hukum Tuhan sangatlah cermat sehingga disebut menduduki kerusi Musa. Tetapi malangnya, mereka sendiri tidak melakukan apa yang mereka ajarkan. Gelar yang sesuai bagi orang munafik seperti itu adalah aktor rohani. Aktor rohani adalah mereka yang pintar menyampaikan dan mengajarkan hukum-hukum Tuhan tetapi mereka sendiri tidak melaksanakannya.  Mereka tidak layak disebut pemimpin dan pelayan kerana apa yang mereka ketahui dan ajarkan tidak mereka laksanakan dalam diri sendiri.

Apakah kritik Yesus itu dapat diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Jelas dapat. Kesalahan yang sering terjadi pada kehidupan umat adalah salah mengerti prinsip dan motivasi pelayanan. Hal yang sering terjadi adalah pelayanan dilihat sebagai kesempatan untuk memperoleh kekayaan diri, kesempatan untuk memperoleh penghormatan dan penghargaan, kesempatan untuk memperlihatkan kebolehan dan kemampuan, kesempatan untuk mengkritik dan menilai orang lain tetapi tidak untuk diri sendiri.

Kritikan Yesus terhadap para pemuka agama Yahudi tersebut haruslah menjadi autokritik terhadap pelayanan dan kepemimpinan kita. Kita perlu bertobat dari motivasi dan prinsip pelayanan yang keliru. Kita perlu belajar dari teladan Yesus Kristus. Melayani bererti merendahkan hati sebagai pelayan demi sesama manusia, menjadi teladan untuk apa yang kita harapkan orang lain perbuat.

Belajar dari Yesus. Pelayan dan pemimpin yang benar adalah mereka yang lebih dahulu terbuka hati untuk mahu dipimpin oleh Allah. Demikian juga guru rohani yang benar, tidak hanya tahu kebenaran adalah pengetahuan semata-mata tetapi harus lebih dahulu mengetahui bahawa kebenaran sebagai pengalaman dan penghayatan iman yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pemimpin dan guru seperti itu adalah mereka yang memiliki kerendahan hati dan terbuka pada pimpinan Allah, serta membimbing dan menuntun umat untuk ikut mengasihi dan mentaati Allah, tanpa mengharapkan apa-apa balasan.

Pelayan dan pemimpin rohani seharusnya tidak menuntut untuk mendapatkan penghormatan dan penghargaan, tetapi umat yang dipimpin juga harus menjauhkan diri dari sikap suka memberi pujian dan hormat yang berlebihan. Pelayan dan pemimpin sejati harus selalu terbukan belajar menjadi murid-belajar dari Yesus sang pelayan dan pemimpin-rendah hati, serta tunduk kepada kuasa Allah sebagai sumber pelayanan dan kepemimpinan.


Cadangan Soalan untuk Refleksi peribadi dan perkongsian Komuniti Kristian Dasar (KKD)

Hidup ini adalah sebuah panggilan. Panggilan untuk hidup bersatu dengan Dia sang Sumber Kehidupan. Kita pun dipanggil untuk menghayati segala perintah-Nya secara konkrit/nyata dalam kehidupan sehari-hari.

  • Bagaimana anda menghayati Sabda Allah selama ini? Apakah hanya ucapan mulut sahaja atau terungkap dalam sikap dan tingkah laku anda setiap hari?

 

Ya Allah, kami bersyukur atas kehadiran Putera-Mu dalam rupa
sakramen cinta kasih ini. Berkatilah kami agar cinta kasih kami tidak
hanya menjadi kata-kata hampa, tetapi sunguh nyata dalam tindakan.
Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang setia dan kelak
Kauperkenankan menerima anugerah kehidupan kekal. Sebab, Dialah
Tuhan, Pengantara kami.