MINGGU PALMA: MEMILIKI SIKAP BERJAGA-JAGA DAN MENJADIKAN YESUS SEBAGAI DASAR DALAM HIDUP SEHARI-HARI

SONY DSCGereja Katolik sedunia, termasuk di Malaysia merayakan Minggu Palma untuk mengenang Yesus masuk kota Yerusalem dan menandai awal Pekan Suci.

Perayaan Minggu Palma oleh umat Katolik di Gereja Katedral St Francis Xavier, Keningau, Minggu (29/03/2015) berlangsung meriah. Umat merayakan Minggu Palma untuk mengawali pekan suci atau sebelum Yesus mengalami senggara dan wafat di kayu salib.

Dalam homilinya, Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong mengatakan, Yesus diarak bagai seorang raja. “Yesus dinaikkan keledai, menggambarkan kerendahan hati. Ini mengajarkan kita akan kesederhanaan. Minggu Palma ini, mengajak kita untuk ikut dalam misteri kebangkitan Yesus,” katanya.

SONY DSC

SONY DSC“Yesus tidak ikut arus kehidupan pada zaman itu. Yesus berani melawan ketidakadilan yang ia alami. Yesus sangat kuat memegang prinsipnya. Kerana itu, kita harus meneladaninya, dengan memegang prinsip kita yakni cinta kasih. Itu yang harus kita teladani,” katanya.

Beliau menambah, memang kita tidak pernah meminta kesengsaraan ataupun salib. Setiap kita tidak menginginkan penderitaan, tetapi saudara-saudari, kita perlu melihat kembali, Yesus pernah mengatakan: “Setiap orang yang mahu mengikuti Aku, dia mestilah jangan mementingkan dirinya sendiri, memikul salibnya tiap-tiap hari dan mengikuti Aku”. Dan bagi kita yang mahu mengikut Yesus, perlulah kita ingat bahawa kita perlu mengamalkan apa yang dituntut oleh Yesus.

SONY DSC

Dunia dewasa ini, manusia mahu agar kepentingannya lebih diutamakan dan sebab itu banyak perkara yang sepatutnya tidak berlaku, akhirnya berlaku seperti ketidakjujuran, tidak ada integriti, tidak dapat diharapkan seperti yang kita baca dalam suratkhabar pada masa ini. Seorang yang telah diberi tanggungjawab, tidak melakukan tanggungjawabnya itu dan sebaliknya menyalahgunakan kedudukan mereka itu demi kepentingan diri sendiri dan merosakkan masyarakat.

Saudara-saudari, demikian juga dengan pengorbanan. Makin hari makin tidak dihargai. Pengorbanan itu dipandang sebagai perbuatan yang bodoh kerana mengutamakan keuntungan, kepentingan sendiri. Pengikut Yesus bukan seperti itu. Selaku pengikut-pengikut Yesus, Dia tidak akan membiarkan kita tanpa kekuatan. Dia sudah memberikan kita kekuatan itu iaitu Roh Kudus sendiri. Yesus pernah berpesan ketika berada di taman getsemani, Yesus ada mengatakan kepada para rasul-Nya: “Tidakkah engkau sanggup berjaga satu jam? Berjagalah dan berdoalah supaya kamu tidak jatuh ke dalam pencobaan”.

Keuskupan kita mempunyai tema supaya setiap kita anggota keluarga belajar hidup berpusat kepada Kristus. Dalam kehidupan kita sehari-hari, selaku sebagai ibubapa atau anak, kita perlu mengambil sikap setiap hari untuk berjaga-jaga bersama Yesus, kerana tanpa sikap ini, kita akan mudah dijerat dengan budaya anti-Kristus.

Di akhir homilinya, Bapa Uskup selagi lagi mengingatkan umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi itu, agar selalu mempunyai sikap berjaga-jaga dan menjadikan Yesus sebagai pusat dalam kehidupan mereka. Belajar untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, belajar untuk merenungkan firman Tuhan, kesatuan sebagai umat Allah. Demikian kita akan dapat menghayati semangat minggu suci ini.

SONY DSC

SONY DSC

TAHBISAN DIAKONAT SEMINARIAN HILANUS DAN SEMINARIAN HARRY

SONY DSCKeningau – Ahad, 27 March 2015 lalu, Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong berkenan mentahbiskan dua seminarian menjadi diakon bagi Keuskupan Keningau. Kedua seminarian itu adalah: Seminarian Hilanus dan Seminarian Harry.
Sejak petang, Gereja Katedral St Francis Xavier sudah didatangi umat dari berbagai paroki di Keuskupan Keningau dan luar Keuskupan Keningau. Tepat pukul 16.00, arak-arakan para altar, para paderi, calon diakon dan konselebran, mulai memasuki Gereja dari pintu masuk. Serentak umat berdiri menghadap arak-arakan. Lagu pembukaan pun dilantunkan dengan begitu meriah oleh koir dari para Belia KSFX.
Selebran utama dalam perayaan Ekaristi ini adalah Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong (Uskup Keuskupan Keningau), dengan dibantu oleh para konselebran iaitu: Msgr. Gilbertus Engan dan Rev. Fr Rudolf Joannes.
Ekaristi berjalan dengan khidmat dan khusyuk. Kedua seminarian, satu-persatu menerima tahbisan diakon dari tangan Bapa Uskup Datuk Cornelius Piong setelah masing-masing menyatakan kesanggupan sebagai diakon. Saat kedua seminarian mengenakan stola dan dalmatik, mereka pun telah rasmi menjadi diakon. Dengan demikian, Keuskupan Keningau kini mempunyai dua orang diakon.

SONY DSC

SONY DSC

Terpanggil untuk hidup selibat, menjadi diakon kemudian paderi, tidak akan terjadi jika bukan kerana Allah sendiri yang memanggil/memilih. Begitulah yang disampaikan Bishop Cornelius dalam homilinya “bukan kerana aku yang memilih, tetapi kerana Engkau sendirilah yang memilih”. Tahbisan adalah rahmat Tuhan, sehingga harus dijaga dan dihidupi. Menjadi diakon bererti menjadi pelayan, iaitu membantu tugas-tugas paderi dan uskup dalam melayani umat Allah. Kesetiaan dan rendah hati amat diperlukan. Peran serta umat melalui doa dan dukungan bagi kesucian para paderi mahupun diakon, akan selalu diperlukan sampai bila pun. Lebih lanjut Bishop Cornelius mengatakan, adalah suatu hal yang menggembirakan di awal tahun ini, bahawa Keuskupan Keningau akan dianugerahi dua orang paderi tidak lama lagi. Sekali lagi, kita harus bersyukur atas rahmat ini. Tuhan sendiri yang akan memilih penerusnya untuk menyelamatkan Gereja-Nya. Peran ibubapa pun tidak kalah penting. Bimbingan yang mereka berikan dalam lingkup keluarga, khususnya pendidikan iman katolik, turut menunjang tumbuhnya benih-benih panggilan di hati putra-putri mereka. Kerelaan hati untuk menyerahkan/mem-persembahkan putra-putri mereka sepenuhnya pada Tuhan merupakan suatu hal yang patut mendapat pujian. Pada akhirnya, kita sebagai umat beriman kristiani, harus mampu menjadi garam dan terang, dalam apapun pekerjaan kita dan dimanapun kita berada.

SONY DSC

SONY DSC

SONY DSC

Sejak Ekaristi dimulai hingga awal ritus penutup, suasana sungguh khidmat. Seketika suasana berubah menjadi ramai saat Diakon Hilanus memberikan sambutan. Diakon Hilanus bertugas di Paroki Santo Anthony, Tenom. Seminarian Hilanus terkenal dengan peribadinya yang senang bergaul, akrab dengan kaum muda, humoris, cukup mengena di hati umat. Sambutan yang dibawakannya sangat ringan, beberapa kata dan gerak tubuh spontannya banyak mengundang tawa. Diakon Hilanus mewakili sahabatnya menyampaikan rasa syukur pada Tuhan dan terima kasih atas dukungan semua yang hadir. Sempat pula menyapa keluarga untuk menyampaikan terima kasih. Terus berharap pada doa-doa umat agar mereka bertujuh dapat meneruskan pada tahbisan imamat.
Sebelum berkat penutup, Bishop Cornelius mengumumkan bahawa kedua diakon akan melanjutkan pelayanannya di tempat sekarang bertugas sampai ada penugasan berikutnya. Untuk diketahui, Diakon Hilanus saat ini bertugas di Paroki St Anthony, Tenom dan Diakon Harry pula bertugas di Paroki St Peter, Kuala Penyu.
Saat Ekaristi selesai jam sudah menunjukkan waktunya makan malam. AJK sudah mempersiapkan hidangan makan malam di dewan. Seluruh yang hadir berjalan keluar dari Gereja dan menuju ke dewan St Francis Xavier. Aneka hidangan sudah dipersiapkan dalam piring-piring atau mangkuk-mangkuk, sehingga hadirin dapat langsung mengambilnya. Budaya beratur tetap sangat diperlukan, agar semua sama-sama merasa nyaman. Acara makan malam diiringi dengan tarian dari komuniti Timores, komuniti Filipino, para belia KSFX dan para belia dari Paroki St Peter, Kuala Penyu. Sementara hadirin bersantap ria, kedua diakon tertahbis pun sibuk menerima ucapan selamat dan permintaan foto bersama. Wajah yang cerah dengan senyum lebar nyata terlihat dari kedua diakon. Walaupun kelihatan peluh tak henti mengalir di wajah, namun mereka tetap bersemangat menerima ucapan selamat. Senyum bahagia pun terlihat dari keluarga masing-masing diakon.

SONY DSC

SONY DSC

IN MEMORIAM: BROTHER HERBERTUS GOMPUK, La Salle

in memoriam 3”In Memoriam”

Brother Herbertus Gompuk, Peribadi Pendidik Ideal

Gereja Katolik Sabah kehilangan seorang tokoh pendidik yang handal. Dia bukan hanya pengajar, bukan hanya seorang guru atau kepala sekolah, tetapi juga seorang pembimbing dan pencerah jalan kehidupan bagi lingkungannya. Sahabat yang sangat setia.

Oleh kerana itu, kepergiannya merupakan suatu kehilangan besar bagi dunia pendidikan di Nabawan, Tambunan khususnya, dan Sabah pada umumnya. Setidaknya bagi lingkungan pendidikan Katolik, La Salle, dan Sekolah St Martin, Tambunan dan Asrama Butitin di Nabawan.

Itulah sekelumit kesan dan kenangan indah tentang Brother Herbertus Gompuk, La Salle, yang telah dipanggil untuk bersama Bapa di dalam Kerajaan Syurga pada hari Khamis (19/3) di rumah kediaman keluarga. Setelah dibawa ke dewan Gereja St Theresa, Tambunan dan disemayamkan selama dua hari di dewan Gereja, jenazahnya dimakamkan hari Sabtu seusai persembahan misa rekuiem yang dipimpin Rev. Fr Bede Anthonius bersama enam paderi lainnya.

in memoriam 4

Selama tiga hari disemayamkan, jenazah Brother Herbertus selalu dikerumuni pengagumnya. Siraman syair-syair doa yang indah dan syahdu terus mengalun dari sanak keluarga dan handai taulan. Dengan khusyuk mereka memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing, tanpa diusik dan mengusik, tanpa beban di atas niat yang suci dan ketulusan hati. Semuanya satu tujuan, satu hajat dan satu permohonan, agar Brother Herbertus mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.

Pada hari pemakaman jenazah lebih terasa sebagai “reuni akbar” bagi keluarga besar komuniti La Salle. Gereja St Theresa, Tambunan dipenuhi dengan para pelayat yang memadati setiap bangku yang kosong.

in memoriam 5

Aula tempat jenazah disemayamkan dan dipersembahkannya misa rekuiem, begitu semarak, tetapi sepi dan anggun. Begitu padat dijejali manusia, tetapi sepi dari perbincangan. Hening dan hening. Semuanya terhanyut dalam suasana sendu yang dipancarkan oleh berbagai karangan bunga duka cita yang memenuhi dinding dan sudut-sudut ruangan. Juga terimbas wibawa almarhum yang merambat dari peti jenazah di depan altar suci itu! Alunan lagu-lagu yang dikumandangkan koir para belia St Theresa ini semakin menghunjamkan rasa kesedihan dan kehilangan yang tak ternilai!

in memoriam 6

Setelah misa rekuiem selesai dipersembahkan, jenazah Brother Herbertus dibawa ke pemakaman Katolik tidak jauh dari Gereja St Theresa. Umat membanjiri tanah pemakaman untuk member penghormatan terakhir kepada beliau yang banyak berjasa dibidang pendidikan dan sejarah awal mula iman Katolik di negeri Sabah, khususnya di daerah Tambunan sendiri.

Biodata Mendiang Brother Herbertus Gompuk

 

Tarikh lahir : 03 Oktober 1958

Kg halaman : Kg Mogong, Tambunan

Tarikh mula bersekolah : Januari, 1965

Tamat darjah 6 : Disember 1971

Sekolah rendah : St Theresa, Tambunan

 

Tingkatan Satu : Januari 1972

Tamat tingkatan satu : Disember 1977

Tingan di Asrama Tampasak : 16 Jan 1976 – Mac 1979

Sekolah menengah : SM ST Martin Tampasak, Tambunan

 

St Joseph’s Training College/Novitiate : April 1979 – May 1981

SM St Martin Tampasak : May 1981 – Disember 1981

La Salle Tanjung Aru/Gaya College : Jan 1982 – Disember 1984

 

SM St Martin Tampasak (Jan 1985 (sebagai guru)

Meninggalkan St Martin : Mac 1993

 

University of La Salle Bacolod : April 1993 – July 1993

La Salle Tanjung Aru : Aug 1993 – May 1994

 

Asrama St Bede Nabawan :May 1994 – Sept 1996

La Salle Tanjung Aru : Sept 1996 – March 2006

 

Kg Sonsogon Magandai, Kota Marudu : Jan 1997 – Sept 2007

Kg Nalapak, Kota Marudu : Julai 1997 – Sept 2007

 

Asrama Butitin Nabawan                              : 1 April 2008

MARI, TERIMALAH ROH SUKACITA!

SONY DSC

SONY DSC

Pertapaan Karmel, Tambunan – 17hb hingga 20hb Mac telah dibanjiri oleh ratusan para belia dan remaja dari ketiga-tiga dioses di Sabah dan 2 peserta dari Dioses Kuching yang mengikut Kem Belia dan Remaja. Program ini merupakan salah satu program tahunan yang diadakan oleh Kongregasi Putri Karmel dan Kongregasi Carmelitae Sancti Eliae (CSE) khusus untuk menjangkau para belia dan remaja dan menanggapi seruan Bapa Suci Pope Francis dalam Seruan Apostolik Evangelii Gaudium atau Sukacita dalam Pewartaan. Oleh itu, tema Kem ini adalah “Mari, terimalah Roh Sukacita!”.

SONY DSC

SONY DSC

Kem Belia dan Remaja ini diawali dengan Misa Pembukaan serta acara perasmian yang dipimpin oleh Bapa Uskup Keuskupan Keningau, Bishop Datuk Cornelius Piong. Dalam homilinya, beliau mengajak para belia dan remaja untuk membuka mata hati agar dapat melihat kehadiran Kristus dalam kehidupan masing-masing. Tuhan sentiasa memanggil kita untuk datang kepadaNya dan menerima Roh Sukacita secara penuh iaitu cintakasih Tuhan itu sendiri. Bagaimana caranya? Dengan sungguh-sungguh mengikuti setiap acara yang ada dalam kem ini sehingga akhirnya para belia dan remaja dapat menemukan apa yang Tuhan ingin berikan kepada setiap peribadi yang datang mengikuti Kem ini. Pada hari pertama acara dibuka dengan ‘Welcoming Night’ sebagai sesi perkenalan antara pihak pertapaan dengan para peserta yang seramai 570 orang ini. Inti utama acara ini adalah ajakan kepada para peserta supaya mempunyai kerinduan yang besar untuk mengalami Roh sukacita dari Yesus sendiri melalui sebuah persembahan drama yang dilakonkan oleh para Brother dan Sister sendiri bersama dengan Komuniti Tritunggal Mahakudus. Tajuk Drama adalah “Mencari Harta yang Terpendam”. Untuk mendapatkan harta yang terpendam itu bukanlah mudah tetapi mempunyai banyak halangan dan rintangan yang pastinya menguji iman seseorang apakah mahu terus bertahan dalam perjalanan untuk menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga. Apabila sudah menempuh banyak ranjau dan onak duri, pasti tidak sia-sia iman itu kerana akhirnya bertemu dengan apa yang dicari itu iaitu Yesus sendiri sumber sukacita itu.

SONY DSC

Adapun acara-acara yang diadakan dalam kem ini adalah sesi ceramah-ceramah sangat menarik iaitu “Sukacita Syurgawi vs Sukacita Duniawi” dan “Sukacitaku kini penuh”. Ceramah-ceramah bukan saja disampaikan oleh para sister Putri Karmel dan brother CSE sendiri, tetapi juga oleh 2 orang padri diosesan iaitu Fr. Rudolf Joannes dan Fr. Ronnie Mailap. Pada hari kedua kem ini, Fr. Rudolf Joannes menyampaikan ceramah yang bertajuk “Saya Bangga Menjadi Katolik”. Kenapa saya harus bangga menjadi katolik? Fr. Rudolf menjelaskan secara mendalam mulai dari sejarah gereja awali sampai pada saat ini, di mana sebenarnya gereja katolik mempunyai kekayaan yang sungguh luarbiasa sejak dahulukala yang tidak dimiliki oleh gereja atau dominasi yang lain. Kekayaan ini perlu disedari oleh para belia dan remaja sehingga tidak mudah goncang dalam arus zaman kerana dunia dewasa ini sangat haus akan kesaksian iman sehingga dunia dapat bersaksi bahawa Yesus sungguh hidup dan tidak pernah meninggalkan manusia walau sesaatpun. Pada petang hari, Fr. Rudolf memimpin Misa Maria di mana para peserta dapat mempersembahkan diri mereka secara khusus kepada Bonda Maria melalui perarakan lilin di akhir Perayaan Ekaristi ini. Dalam homilinya, beliau menjelaskan tentang ‘Mariologi’ iaitu pengetahuan akan Bonda Maria. Siapakah dan apakah peran Maria dalam hidup kita? Dalam hal yang sama para belia dan remaja diajak agar mampu mempertanggugjawabkan iman mereka akan Kristus ketika berhadapan dengan banyak pertanyaan yang berhubungan dengan peranan Maria dalam hidup ini.

Hari yang berikutnya, para peserta disajikan dengan ceramah yang juga sangat menarik iaitu sesi seksualiti yang disampaikan oleh Fr. Ronnie Mailap. Para peserta diajak untuk semakin mengerti akan makna dan keluhuran manusia yang terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Setiap peribadi manusia perlu menghargai tubuhnya sendiri dan sesamanya yang merupakan ciptaan Tuhan yang paling unik dan secitra dengan Sang Pencipta. Pada hari ketiga ini, merupakan hari yang istimewa bagi para peserta kerana mereka mempunyai kesempatan untuk mengenali siapakah Paderi dan para religious kerana dalam Perayaan Ekarisiti, mereka mempunyai kesempatan untuk mendengarkan sharing-sharing dari mereka yang sudah menjalani dan memaknai erti panggilan itu. Seminarian David Richard Gasikol yang sedang menjalani masa pastoralnya di Paroki Katedral Keuskupan Keningau mewakili Paderi Diosesan. Brother Ignatius mewakili Kongregasi La Salle Brother, Sister Betty mewakili Kongregasi Infant Jesus dan Sr. Helena Afra mewakili kongregasi Putri Karmel. Rupanya, melalui sharing-sharing ini, banyak juga peserta yang tertarik dan diteguhkan panggilan mereka untuk membaktikan diri kepada Tuhan, apalagi tahun ini merupakan Tahun Hidup Bakti.

Selain dari sesi-sesi ceramah para peserta juga dibawa untuk mengalami kehadiran Tuhan melalui sesi-sesi doa iaitu Doa Yesus, Adorasi, Sharing Kitab suci secara berkumpulan, menerima Sakramen Pertobatan serta mengalami Yesus yang menyembuhkan melalui sesi Penyembuhan Luka Batin. Biasanya setelah para peserta melalui semua acara ini dan mereka semakin mengerti ajakan Kristus dalam hidup mereka, mereka akan dipimpin untuk menerima Yesus secara baru dalam hidup mereka iaitu melalui sesi Pencurahan Roh. Sesi ini bertujuan untuk mengajak para peserta untuk memperbaharui kembali iman yang telah diterima saat dibaptis sehingga ketika mengakhiri kem ini para peserta mempunyai bekalan untuk menjadi saksi atau pewarta bahawa sukacita mereka telah penuh dan mereka adalah anak-anak Allah dan milik Allah yang sangat berharga. Apalagi yang seterusnya? Acara unggun api merupakan kemuncak dari semua acara kerana para peserta dapat menyaksikan nyala api Roh Kudus yang telah membakar isi hati mereka iaitu surat-surat cinta yang telah mereka tulis sejak mereka datang ke tempat ini. Surat-surat yang mereka tulis dimasukkan ke dalam sebuah kotak yang kemudian dipersembahkan dalam Misa Kudus dan akhirnya menjadi buah bakaran yang harum mewangi kerana Tuhan sudah membaca surat cinta mereka. Walaupun tapak atau kawasan unggun api sangat terhad untuk ratusan orang, namun para peserta tetap dapat bersukacita dengan lagu-lagu pujian dan penyembahan yang sangat hidup yang diselingi dengan renungan yang sederhana tetapi ertinya sungguh mendalam. Begitu juga dengan tempat acara ceramah, doa-doa, misa dan senaman pagi semuanya dilakukan di dalam chapel kerana kekurangan tempat. Namun, itu semua tidak menghalang perjalanan acara kerana para peserta tetap dapat mengikuti kem ini dengan baik.

Pada hari terakhir kem ini, Misa Perutusan dipimpin oleh Fr. Giovanni CSE. Dalam homilinya, beliau mengajak para peserta untuk terus bersyukur kepada Tuhan yang telah mengutus Roh KudusNya dan telah membimbing para belia dan remaja sehingga sungguh-sungguh menerima Roh Sukacita itu sendiri. Beliau mengatakan bahawa hari ini bukanlah suatu pengakhiran, tetapi merupakan suatu permulaan yang baru agar apa yang telah dialami oleh para belia dan remaja dan dikongsikan kepada sesamanya nanti supaya mereka juga dapat mengalami apa yang telah dialami oleh para peserta itu sendiri. Di akhir Perayaan Ekaristi ini, diadakan paluan gong oleh Fr. Giovanni sendiri sebanyak tiga kali untuk menutup seluruh rangkaian acara Kem Belia dan Remaja 2015 dan juga sebagai perutusan kepada para peserta agar terus dapat berbagi sukacita di dalam pewartaannya.

SONY DSC

MANUSIA MUDAH LUPA

Renungan Hari Minggu Palma (B)

Mrk. 11:1-10

Yes.50:4-7; Flp.2:6-11; Mrk.14:1 – 15:47

Kita sudah sampai pada minggu yang sangat penting – Minggu Suci. Minggu Suci bermula dengan memperingati Yesus memasuki kota Yerusalem pada hari minggu Palma dan kemudian berpuncak pada kemuliaan Yesus apabila Dia bangkit pada minggu Paska.

salibkanDengan merenungi kisah kesengsaraan Yesus tersebut, kita sebenarnya boleh mempelajari banyak perkara yang boleh menjadi pedoman hidup kita setiap hari. Bahawa sikap manusia yang mudah berubah-ubah dan mudah lupa. Pada waktu Minggu Palma, orang ramai berteriak-teriak, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Yoh 12:13). Tetapi tidak lama kemudian, iaitu pada hari Jumaat Agung, orang-orang yang sama itu berteriak, “Salibkanlah Dia!” (Mk 15:13-14).

Salah satu contoh gambaran yang jelas tentang sikap manusia yang mudah berubah-ubah ini adalah sikap Petrus sendiri. Ketika Yesus memberi tahu para murid-Nya bahawa, “Anak manusia harus menanggung banyak penderitaan… lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mk 8:31). Tetapi Yesus memarahi Petrus, “Enyahlah iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang difikirkan Allah, melainkan apa yang difikirkan manusia” (Mk. 8:33).

Sesudah malam perjamuan terakhir selesai, dengan penuh kesedihan Yesus mengatakan bahawa mereka semua akan tercerai berai apabila melihat-Nya dikhianati dan ditangkap oleh pihak yang berkuasa. Namun tanpa berfikir panjang, Petrus bangkit langsung berkata dengan penuh kepastian dan bersemangat, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak” (Mk.14:29). Apabila Yesus mengatakan bahawa dia akan menyangkal-Nya, dengan tegas Petrus menjawab, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau aku takkan menyangkal Engkau” (Mt. 14:31). Lagi-lagi Petrus dengan sikapnya yang terlalu ego itu.

Di sini kita dapat melihat Petrus, walaupun pada suatu masa dia pernah mengakui bahawa Yesus itu adalah Sang Mesias, namun akhirnya tidak sanggup menerima kenyataan bahawa Yesus harus mengharungi proses kesempurnaan-Nya untuk penyelamatan manusia.

peterApabila apa yang dikatakan oleh Yesus itu mulai terjadi, Petrus langsung menolak Yesus kerana dia masih berpegang pada pemikirannya yang lama. Tetapi apabila dia mendengar ayam jantan berkokok, dia menyesal lalu menangis. Petrus yang sudah berjanji untuk tetap setia pada Yesus itu, pasti merasa sungguh dipermalukan oleh sikapnya sendiri yang menyangkal Yesus itu. Mujurlah dia dapat menghubungkan kokokan ayam jantan tersebut dengan pernolakan terhadap Yesus, yang akhirnya menyedarkan dia bahawa untuk mengikuti, mengasihi, dan setia kepada-Nya, bukanlah atas kekuatannya sendiri. Kesemuanya ini adalah anugerah daripada Tuhan sendiri. Akhirnya Petrus menyedari juga bahawa selain Tuhan, dia sebenarnya tidak mempunyai apa-apa erti. Betul juga perumpamaan yang sering kita dengar: “Sudah terantuk baru tergadah,” sangat sesuai untuk kita renungkan bersama dengan kepribadian Petrus dan juga peribadi kita sendiri.

Jika kita renungkan betul-betul, kokokan ayam jantan tersebut sebenarnya merupakan kokokan penyelamatan bagi Petrus. Sama seperti Petrus, kita sendiri pun mempunyai sejarah pelbagai penyangkalan terhadap Yesus baik dahulu, sekarang dan pastinya yang akan datang. Tidak seperti Petrus sebelum ayam tersebut berkokok, kita menerima Yesus yang sudah disalibkan dan sudah bangkit pula. Namun kita kurang menyedari bahawa menerima Yesus bererti kita harus menghidupi sabda-Nya. Sebaliknya kita hidup seakan-akan Yesus itu kurang penting dan bukannya merupakan pusat kehidupan kita. Namun, kita berharap, mudah-mudahan penolakan serta dosa-dosa yang kita lakukan dapat menyedarkan kita daripada realiti kehidupan yang sedang kita jalani dan kembali kepada-Nya.

Untuk menjadikan semua ini bakal terjadi, maka kita perlu belajar mendengar “kokokan ayam jantan” seperti yang dilakukan oleh Petrus. Bahawa, mengikuti Yesus, bererti mematikan diri sendiri dan hidup di dalam-Nya. Kita perlu sentiasa belajar bahawa segala bentuk penolakan kita terhadap Yesus serta pelbagai dosa-dosa yang kita lakukan, apabila betul-betul kita mengakuinya dan bertaubat, maka ‘kokokan ayam jantan’ di dalam kehidupan kita akan menjadi suatu penyucian dan pembaharuan yang mana akan menunjukkan kita ke kehidupan yang baru, suatu kehidupan dengan dan di dalam Yesus.

Seperti Petrus dan orang-orang yang pada mulanya berteriak “Hosana” dan kemudian berteriak “Salibkan Dia” itu, bukankah kita pun selalu menolak Yesus dengan pelbagai gaya hidup harian kita? Misalnya, jika kita tidak mematuhi undang-undang umum, maka itu tanda kita menyangkal Yesus. Demikian juga suami isteri yang saling menipu, ibu bapa yang tidak mempedulikan anak-anak mereka kerana lebih pentingkan diri dan aktiviti-aktiviti sosial mereka. Atau jatuh cinta dengan orang yang tidak seagama, rela menukar agama dengan alasan, “Saya sudah ditakdirkan kahwin dengan dia.” Apakah apabila kita mengalami pelbagai perkara yang menyedihkan membuat kita putus asa, sakit, gagal dan 1001 macam perkara yang menyedihkan kita tidak melupakan Tuhan?

Semoga bermula pada hari ini dan seterusnya, sementara kita merenungi kisah sengasara kematian dan kebangkitan Yesus, marilah kita membaharui komitmen kita untuk tetap setia pada-Nya walaupun terpaksa bergelut untuk mematikan keinginan diri kita supaya Yesus menjadi nombor satu di dalam kehidupan kita. Akhirnya, marilah kita dengan penuh rendah hati berlutut serta memeriksa segala kesilapan yang membut kita menolak Yesus, menerima sakramen pertobatan serta mohon anugerah kesetiaan terhadap-Nya. (JL)

Cadangan soalan refleksi peribadi dan perkongsian KKD:

  1. Agama bukan hanya sebagai simbol status seseorang. Tetapi bagaimanakah
    seharusnya hidup kita sehaluan dengan ajaran agama kita?
  2. Agama mempunyai empat tahap: ‘Dikenali, difahami, dihayati dan dihidupi’.
    Menurut anda, sampai tahap ke berapa sahaja yang seringkali anda laksanakan dalam kehidupan anda ketika ini? Kalau tidak sampai ke tahap menghidupi agama, mengapa dan bagaimana memperbaikinya lagi?

Cadangan aktiviti minggu ini:

Renungkan perjalanan hidup anda selama ini dan perhatikan kesulitan-kesulitan
hidup yang paling menyakitkan. Anggaplah pengalaman tersebut sebagai pembangkit semangat anda untuk kembali kepada Tuhan dan berazam untuk membaharui kesetiaan anda terhadap Tuhan, melalui amalan kesetiaan terhadap pasangan, tanggung jawab, pekerjaan dan pelayanan.