MENTAATI HUKUM ALLAH TANPA KASIH ADALAH KEHAMPAAN

 HARI MINGGU BIASA KE 30 (A)

Bc.1. Kel.22:21-27          Bc.2. 1Tes.1:5c-10           Bc.3. Mat. 22:34-40

Apakah engkau mengasihi Aku? (Yoh 21:12). Pertanyaan itu adalah pertanyaan Yesus kepada Simon anak Yohanes. Sebanyak tiga kali Yesus bertanya, tiga pertanyaan itu juga ditujukan kepada kita di zaman sekarang. Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi-Nya?. Yesus bertanya sebanyak tiga kali, itu bererti KASIH itu merupakan sesuatu yang sangat penting, yang perlu dimiliki oleh setiap peribadi yang mengakui dan mengimani serta menjadi murid Yesus. Apakah kita sudah mengasihi-Nya dengan segenap hati, segenap jiwa dan dengan segenap akal budi?. Orang yang beriman adalah mereka yang hidupnya berlandaskan KASIH dan menghasilkan buah-buah KASIH.

Mentaati Hukum Allah tanpa KASIH adalah Kehampaan

Seorang perempuan dipaksakan menikah oleh orang tuanya dengan seorang lelaki yang tidak dicintainya. Selepas pernikahan, setiap hari dia melayani suaminya kerana kewajipan sebagai seorang isteri. Namun suaminya sangat mencintainya sehingga mengubah sikap isterinya. Setelah sekian lama hidup sebagai suami isteri, lama kelamaan si isteri jatuh cinta kepada suaminya. Sejak itu dia melayani suaminya bukan kerana kewajipan tetapi kerana cinta. Kedua pasangan itu pun hidup bahagia. Si isteri tidak lagi merasa hampa kerana kewajipan, tetapi hidup penuh sukacita kerana bunga-bunga KASIH sayang yang mendasari hidup mereka berdua.

Dalam bacaan Injil, pertanyaan ahli Taurat bermaksud menguji Yesus kerana tidak ada satu pun dari hukum Musa yang mendapat prioriti lebih tinggi untuk ditaati (Mat 22:36). Yesus tidak dapat dicobai melalui apa pun bentuk pertanyaan, sebaliknya Yesus membawa ahli Taurat kepada hakikat ketaatan kepada Pemberi Hukum Taurat. Hal yang lebih penting bukan melakukan hukum secara hurufiah tetapi bagaimana mentaati hukum itu dalam rangka mentaati Dia yang memberikan hukum-Nya. Hukum-hukum yang diberikan Allah mencerminkan hakikat-Nya sendiri iaitu KASIH dan BUKAN KEWAJIBAN. Itulah sebabnya mentaati hukum-Nya kerana kewajipan akan terasa berat, susah, dan hampa. Tetapi KASIH kepada Allah itulah yang menjadi dasar mentaati hukum-Nya.

Semua hukum digenapi dalam satu kata iaitu KASIH (Rm 13:10). Semua kepatuhan bermula dari KASIH sayang, dan tidak ada satu pun dalam agama yang dapat dilakukan dengan benar jika tidak ada rasa KASIH terlebih dahulu. KASIH adalah rasa sayang yang menuntun, yang memberikan hukum dan landasan bagi hukum-hukum lain. Karena itu, sebagai benteng utama, KASIH itu harus diberikan dan dipertahankan bagi Allah. Manusia adalah ciptaan yang dibentuk untuk KASIH, karena itu hukum yang tertulis di dalam hati adalah hukum KASIH. KASIH adalah satu kata yang singkat dan manis. Bila KASIH itu memenuhi hukum, pastilah kuk (beban) sesuatu perintah akan terasa sangat mudah dan menyenangkan.

Mengasihi Allah adalah perintah pertama dan terutama dari semua hukum, dan merupakan intisari dari semua perintah yang tertulis di atas loh batu yang pertama. Tindakan KASIH yang dilakukan dengan benar akan memberikan kedamaian sejati dalam hati. Kebaikan adalah tujuan yang tepat dan benar dari KASIH. Maka sudah layak dan pantasnya bahawa, Allah yang kebaikan-Nya tidak terbatas, tidak pernah berhenti sejak permulaan, sekarang dan sampai selama-lamanya, harus menjadi yang pertama-tama untuk dikasihi, tidak tepatlah jika ada yang dikasihi selain Dia dan apa yang dikasihi karena Dia. KASIH adalah hal pertama dan terutama yang dituntut Allah dari diri kita, dan karena itu menjadi hal pertama dan terutama yang kita persembahkan kepada-Nya.

Untuk mengasihi Allah sebagai Allah Bapa kita, maka, Kasihilah Tuhan, Allah mu seperti milikmu sendiri. Perintah yang pertama adalah, Janganlah ada padamu allah lain, yang secara tidak langsung menyatakan kita harus memiliki Dia sebagai Allah kita, dan hal ini akan menarik kita kepada-Nya. Mengasihi Allah seperti milik kita sendiri adalah mengasihi Dia kerana Ia adalah milik kita, Pencipta kita, Pemilik kita, dan Penguasa kita. Oleh karena itu, kita harus memiliki sikap layaknya Dia milik kita, dengan segala ketaatan dan ketergantungan kepada-Nya. Kita harus mengasihi Allah sebagaimana Dia telah diperdamaikan dengan kita, dan Dia telah memberikan diri-Nya menjadi milik kita melalui perjanjian-Nya sendiri. Itulah dasarnya mengapa Dia adalah Allah mu dan Allah ku.

Mengasihi Dia dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi kita. Beberapa orang berpendapat bahawa ketiga perkara ini menunjukkan sesuatu yang sama, iaitu mengasihi Dia dengan segenap kekuatan kita. Sementara ada juga yang membezakan ketiga hal itu dengan mengatakan bahawa yang dimaksudkan dengan hati, jiwa, dan akal budi adalah kehendak KASIH sayang, dan pengertian, atau indera kemampuan yang sangat penting untuk hidup, meliputi kemampuan berperasaan dan berfikir, serta kehendak bebas. KASIH kita kepada Allah haruslah KASIH yang tulus, bukan hanya kata-kata di lidah sahaja, seperti mereka yang berkata KASIH kepada Dia, tetapi hati mereka tidak bersama Dia. KASIH itu haruslah KASIH yang kuat, kita harus mengasihi Dia di tingkat yang paling dalam. Sebagaimana kita harus memuji Dia, begitu juga kita harus mengasihi Dia, dengan segenap batin kita (Mzm 103: 1). Sesungguhnya semua kasih kita terlalu kecil untuk dipersembahkan kepada-Nya, karena itu segenap kekuatan jiwa harus ditujukan dan dibawa kepada-Nya.

KASIH itu haruslah tunggal dan terunggul (satu dan satu-satunya), kita harus mengasihi-Nya lebih dari segala sesuatu. Inilah seluruh alur yang harus dilalui oleh KASIH sayang kita. Hati harus utuh (kesatuan) dalam mengasihi Allah, tidak boleh terbagi-bagi. Dalam kata lain, mengasihi Allah harus dengan hati yang “total” dan “holistik”. Singkatnya mengasihi Allah dengan segenap hati, dan dengan segenap jiwa, dan dengan segenap akal budi ertinya mengasihi-Nya secara total dan holistik. Total bererti seluruhnya, holistik ertinya utuh dan sejati. Tidak boleh mengasihi Allah hanya dengan pikiran (kemampuan nalar/kognitif) sahaja, tetapi juga dengan seluruh perasaan (afeksi). Itupun belum cukup, mengasihi Allah tidak cukup dengan mengenal dan mencintai-Nya, namun harus nampak dan terungkap dalam seluruh realiti kehidupan sehari-hari melalui tindakan (psikomotorik, melibatkan seluruh anggota badan/fisik), sebagaimana yang diungkapkan oleh Yakobus “Jika iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati”(Yak 2:17). Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Ketaatan pada hal ini (hukum pertama dan terutama) menjadi sumber ketaatan bagi semua hukum yang lain. Semua undang-undang lain akan diterima jika mengalir dari KASIH itu.

Mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri adalah hukum utama yang kedua (Mat 22:39). Hukum ini sama dengan yang pertama. Hukum ini merangkum semua perintah yang tertulis di atas loh batu yang kedua, seperti halnya dengan yang pertama. Hukum ini sama dengan hukum yang pertama, kerana hukum ini diadakan atas dasar dan mengalir dari satu sumber iaitu KASIH. KASIH yang benar kepada saudara kita, mereka yang dapat kita lihat, adalah contoh dan bukti KASIH kepada Allah, yang tidak dapat kita lihat (1Yoh 4:20).

Telah ditetapkan bahawa kita harus mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri. Kita harus menghormati dan menghargai semua orang, dan tidak boleh melakukan kejahatan atau merugikan siapa pun. Harus memiliki niat baik kepada semua orang, keinginan yang baik bagi semua orang, dan jika ada kesempatan kita harus berbuat baik kepada semua orang. Kita harus mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita sendiri, dengan sikap jujur ​​dan tulus seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Bahkan di dalam banyak hal kita harus menyangkal diri demi kebaikan sesama kita. Kita harus menjadikan diri kita sebagai pelayan demi kesejahteraan orang lain, dan bersedia mengorbankan milik kita, bahkan mengorbankan diri kita demi kebaikan orang lain.

Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat 22:40). Ertinya, kedua hukum ini adalah intisari dan isi dari semua perintah yang berkaitan dengan pengamalan dan penghayatan serta ungkapan  iman secara praktis. Semua hukum tergantung pada hukum KASIH. Jika hukum KASIH dihapuskan, maka semua hukum yang lain akan gugur dan tidak ada gunanya lagi selain kehampaan. Inilah roh dari hukum Taurat, yang menghidupkan menggabungkan, dan menyatukan hukum Taurat. KASIH menjadi akar dan sumber bagi apa pun yang dianggap kewajipan.

Seluruh Alkitab, bukan hanya hukum Taurat dan kitab nabi-nabi sahaja, tetapi juga Injil, menuju kepada KASIH yang adalah merupakan buah iman, dan bahawa kita mengasihi Allah di dalam Kristus dan sesama kita hanya demi kepentingan-Nya. Semua bergantung pada kedua perintah ini. Semua perintah yang lain terpaut pada pelaksanaan kedua hukum utama tersebut. Kerana, KASIH adalah kegenapan hukum Taurat (Rm 13:10) dan tujuan hukum Taurat adalah KASIH (1Tim 1: 5).

Hukum KASIH itu adalah paku, seperti paku yang tertancap, diberikan oleh seorang gembala (Pkh 12:11) padanya tergantung semua kemuliaan hukum Taurat dan kitab Nabi-nabi (Yes 22:24) suatu paku yang tidak akan pernah dicabut, kerana pada paku ini akan tergantung semua kemuliaan Yerusalem baru dalam kekekalan. KASIH tidak berkesudahan. Sebab itu, biarlah hati kita diserahkan ke dalam kedua hukum utama ini untuk dibentuk serta dibangun olehnya. Maka perlu dengan bersungguh-sungguh mempertahankan dan mewujudkan kedua hukum ini, bukan dalam pemikiran, sebutan-sebutan atau kata-kata sahaja, tetapi dalam seluruh aspek dan sudut kehidupan kiranya dipenuhi dan dikuasai oleh KASIH.

 


 

Cadangan Soalan untuk Refleksi peribadi dan perkongsian Komuniti Kristian Dasar (KKD)

  1. Adakah kewajiban-kewajiban yang harus anda lakukan setiap hari? Mengapa dan bagaimana anda melaksanakan kewajiban-kewajibanmu itu setiap hari? Apakah anda melaksanakannya kerana itu adalah tanggungjawab anda? Apakah anda melaksanakannya dengan tulus ikhlas?
  2. Setiap hari minggu anda akan datang ke gereja untuk sembahyang? Adalah anda melakukannya kerana tugas atau tanggungjawab?

 

Allah Bapa Yang Mahabaik, kami bersyukur kerana Engkau telah mengutus Putera-Mu memberi kekuatan baru bagi kami. Kami mohon dampingilah kami dalam menghayati iman dan mewujudkan kasih serta dalam perjalanan kami menuju Kerajaan-Mu di syurga. Sebab, Dialah Tuhan, Pengantara kami. 

PERKONGSIAN PELAJAR PPK

 

KURSUS PENSIJILAN KATEKIS TAHAP 1 (2016-2017)

 
Flora Stepen
Bagi saya kursus yang ditawarkan oleh PPK memang sangat menarik. Rasa ingin tahu akan kandungan kursus itu, merupakan dorongan untuk mengikuti Kursus Katekis Tahap 1 (KKT1).  Semua tajuk kursus yang dipelajari adalah sangat membantu dan sangat berfaedah. Setiap tajuk yang dipelajari itu menambahkan lagi pengetahuan tentang gereja Katolik, undang-undang Gereja Katolik, mengenali dan memahami maksud doa-doa dan sakramen-sakramen. Apa yang sangat mencabar bagi saya adalah dalam mengenali Tuhan melalui FirmanNya iaitu dalam Alkitab. Selain itu, kursus ini telah membantu saya dan menyakinkan lagi saya akan ketulenan ajaran Katolik melalui sejarah perkembangan Katolik. Kesimpulannya, kursus ini membantu saya untuk membimbing dan menjangkau umat yang kurang pengetahuan tentang Yesus dan Gereja Katolik.

Selepas belajar di PPK, komitmen untuk lebih bertanggungjawab dalam pelayanan gereja ada peningkatan kerana banyak tugas yang harus dilaksanakan. Oleh itu, umat yang kurang pengetahuan akan injil  perlu disegarkan dengan Sabda Allah.

Antara cabaran yang dihadapi adalah, masa untuk menghayati apa yang sedang dipelajari, kurang. Pengagihan masa untuk hadir kelas dan tugasan luar, juga sebahagian dari kerumitan. Tugasan berkumpulan kurang efektif bila tiada masa dan tiada komitmen untuk berbincang lebih lanjut.

Pencapaian matlamat kursus dan bagaimana cara mengaplikasinya perlu dijelaskan setelah kursus tamat. Kesinambungan setiap tajuk jangan terputus lama kerana kadang membingungkan warga emas. Setiap tajuk harus diusahakan latihan amali (practikal) di luar, supaya pelajar dapat mengukur sejauhmana kefahamannya sendiri, bila ada pemantauan dari guru-guru.

Akhir kata, belajar di PPK adalah suatu keuntungan besar kerana ia landasan utama untuk mengenali Allah Tritunggal dan perlengkapan diri untuk berkongsi Injil kepada sesama. Puji Tuhan!Bb Flora Stephen

 

Stella1

Syukur atas Rahmat Penyelenggaraan-Nya, saya telah menghadiri beberapa kursus, seminar dan sesi yang dikendalikan oleh Pusat Pastoral Keuskupan Keningau (PPK) dari tahun 2012 sehingga 2017. Semua kursus dan sesi yang dianjurkan oleh PPK banyak membantu saya bukan sahaja belajar tetapi melatih saya menjadi peribadi yang sungguh-sungguh mahu ‘ Datang dan Duduk’ dekat kaki Yesus. Setiap sesi dalam kursus sangat membantu saya terutamanya dalam Pelayanan Pastoral.

Sebagai Pelayan Umat Allah , pelayanan telah membawa saya ke seluruh pelosok Paroki KSFX khasnya untuk menjangkau umat di kawasan terpencil dan jauh dari pusat paroki. Masalah yang dihadapi dan persoalan yang ditanya oleh umat seolah-olah sebuah ‘Sapaan dan Teguran’ Yesus kepada saya.  Namun saya bersyukur atas Kasih Allah yang begitu besar, yang telah membawa saya untuk mendalami iman saya kepada Yesus melalui seminar dan kursus yang ditawarkan di pusat ini.

Melalui kursus yang saya hadiri, saya belajar bagaimana mewartakan firman Allah agar dapat dihayati dan dijiwai oleh umat setempat. Saya juga memahami Liturgi dalam Perayaan Misa dan Ibadat. Melaluinya saya berpeluang membantu umat dalam mengembangkan minda dan iman serta memahami konsep penginjilan melalui Keluarga dan KKD dalam lawatan perkongsian Katekesis.Walaupun belum mencapai tahap terbaik, saya mampu menyampaikan katekesis dengan keyakinan diri dan berbekalkan ilmu yang saya pelajari. Saya mendapat ‘Sukacita’ dalam pelayanan kerana saya dapat mengongsikan ilmu kepada sesama.

Dalam mempersiapkan diri dengan ilmu Kerohanian, cabaran yang menghalang saya untuk datang kepada Yesus adalah pengurusan masa dan karier saya sebagai kakitangan awam. Namun, Tuhan sentiasa menyebelahi saya dengan rakan-rakan yang menyokong pelayanan saya. Malahan tenaga pengajar dipusat ini, sangat memahami dan membantu saya agar saya dapat menyelesaikan kursus dengan cemerlang.

Sepanjang saya menuntut ilmu di pusat ini, saya memuji teknik pembelajaran yang senang difahami dan pengurusan yang komited dipusat ini. Sebagai seorang pejawat awam dan pelayan umat Allah, yang memungkinkan saya untuk bertemu dan berurusan dengan banyak pihak, namun dengan jujur saya berani meletakkan Pusat Pastoral Keuskupan Keningau merupakan sebuah pusat pembelajaraan yang setaraf dengan kolej pendidikan di Malaysia dalam kategori teknik pembelajaran agama yang mudah dan berkualiti, kerana dapat menjana dan membangun iman dan minda para pelajar.

Justeru itu, saya ingin mengucapkan jutaan terima kasih dan setinggi-tinggi penghargaan kepada Pengarah, Pengetua dan tenaga pengajar dipusat ini atas komitmen dalam melahirkan Katekis yang berilmu , beriman dan berkaliber. Semoga PPK akan terus maju ke hadapan, selaras dengan Visi dan Misi pusat ini : “Menjana Iman dan Minda secara berterusan”. –Stella Kinsik

Richard
Saya melayani sebagai Pemimpin Ibadat Sabda di sebuah gereja stesen luar Paroki KSFX, Gereja St.Yohannes Penginjil Panui dibawah naungan Zon Magatang.
 
Menyertai kursus Tahap 1 di PPK telah memberi banyak pengetahuan tentang ajaran gereja. Pada saya, semua sesi dalam kursus Tahap 1 telah membantu saya untuk memperdalamkan pengetahuan saya tentang ajaran gereja Katolik berkaitan Alkitab, undang-undang gereja, hierarki gereja, dan lain-lain lagi. Pembelajaran ini telah mempertingkatkan pelayanan saya sebagai Pemimpin Ibadat Sabda terutama sekali dalam perkongsian renungan Alkitab.
 
Semasa belajar di PPK, banyak cabaran yang dihadapi iaitu kekangan masa dan tugasan harian yang memerlukan perhatian kerana tuntutan kerja sebagai kakitangan
 
kerajaan. Kadang-kadang saya terpaksa memohon maaf kerana tidak dapat menghadiri kelas, tetapi guru-guru yang mengajar sentiasa bertolak ansur dan terbuka malah tetap menunggu kehadiran kami.
Saya merasa bertuah kerana dapat menghadiri kursus ini. Satu perkara yang sangat menyentuh saya ialah kata-kata seorang ahli gereja yang terdahulu, katanya “Tak kenal Alkitab, maka tak kenal Yesus.”  –Richard Sikol
 

 

Dora

Pada amnya semua  subjek dalam kursus sangat membantu dalam pelbagai aspek. Subjek Katekismus yang membantu saya dalam menjalankan katekesis di bawah bimbingan Sr. Patricia. Cikgu Patrick mendedahkan kepada kami untuk mengendalikan kelas bimbingan dalam Subjek Katekatikal. Alkitab/Wahyu Ilahi dibawah pimpinan Cikgu Fred dalam cara membaca alkitab dan perlaksanaan perkongsian iman serta kelas dibawah bimbingan Cikgu John dalam memahami sosialisasi umat dalam pelayanan dan Kitab Hukum Kanonik  yang dibimbing oleh Fr. Rudolf sendiri.

Selepas memperolehi ilmu rohani dan pemantapan iman ini, diri serupa mempunyai peribadi baru. Banyak ketakutan dalam melanggar hukum-hukum gereja. Menjadikan hidup lebih yakin kerana dapat mengimani Yesus.

Menyentuh tentang cabaran, masa merupakan cabaran utama. Kadang-kadang hari kelas yang diadakan terdapat perkara penting yang berlaku pada masa yang sama.

Masa kursus atau waktu kelas diadakan boleh diperbaiki mengikut kehendak majoriti pelajar dan perbincangan bersama tenaga pengajar untuk mengelakkan daripada membuang masa dan tenaga.  –Dora Pongod

Jufinah

Bagi saya kursus yang banyak membantu adalah perbincangan dalam kumpulan dan menyiapkan slide untuk pembentangan. Selain itu, katekesis secara praktikal juga banyak membantu sepanjang kursus Katekis tahap 1 ini.

Perubahan yang dapat saya rasakan dalam diri saya selepas belajar d PPK selama 1 tahun sangat menyeronokkan. Saya semakin mempunyai keyakinan dan keberanian dalam menjadi saksi Kristus. Saya semakin berani berkongsi pengalaman dalam berkatekesis. Berhadapan dengan pelbagai persoalan umat sekitar KKD dan semangat yang semakin berkobar-kobar.

Namun banyak juga cabaran-cabaran yang perlu dihadapi seperti kengkangan masa untuk kerja, urusan rumahtangga dan pelayanan di gereja menjadi satu kewajipan yang harus dilaksanakan dalam masa yang sama. Oleh itu kerja-kerja atau tugasan yang diberi oleh cikgu-cikgu di PPK terpaksa dihantar melebihi masa yang di tetapkan.

Setakat ini bagi saya semua pembelajaran dan kemudahan yang ada di PPK dalam keadaan yang baik.-Jufinah Abol

 

Magdelena

Kerja berkumpulan, membentang kerja-kerja rumah merupakan aktiviti yang sangat  membantu saya. Membentang di hadapan pelajar kursus telah menambahkan lagi semangat dan mendorong saya untuk lebih fokus dan rasa berani. Selain itu, perkongsian serta nota kursus yang diberikan juga sangat membantu.

Perubahan yang saya rasakan adalah timbul rasa ingin terus belajar dan menambah pengetahuan serta mendalami iman di PPK.

Antara cabaran yang bukan sahaja saya hadapi tetapi juga kawan-kawan sekelas ialah apabila kuliah diadakan pada waktu malam. Ini kerana sukar untuk hadir kelas terutamnya pada sebelah malam.

Cadangan dan komen saya adalah kurangkan kelas pada sebelah malam dan perbanyakkan pembentangan kerja berkumpulan. Selain itu selitkan  juga pendedahan pnggunaan komputer riba dan pemancar LCD kepada pelajar. Selitkan juga pengenalan dan cara penyediaan peralatan Misa Kudus. –Magdelena Kakoh

 

Lolen

Saya melayani sebagai Pemimpin Ibadat Sabda di Paroki KSFX.

Sepanjang saya mengikut kelas Katekis Tahap 1, kami mempelajari sebanyak lapan subjek yang berkaitan dengan pemimpin awam atau lebih dikenali sebagai Katekis selama satu tahun. Setiap subjek yang dijalankan dalam kursus banyak membantu saya, terutamanya dalam pelayanan saya sebagai pelayan di gereja iaitu melalui perkongsian iman, kateksis singkat, pembelajaran mengenai alkitab dan hukum-hukum dalam gereja.

Tujuan saya mengikut kelas ini adalah kerana saya ingin memperolehi pengetahuan yang mendalam tentang ajaran Katolik serta mahu melayani di ladang Tuhan.  Saya mendapat dorongan daripada Roh Kudus, bukan itu sahaja isteri serta anak-anak saya juga mendorong saya untuk mengikuti kelas ini.

Masa menjadi satu cabaran sepanjang mengikuti kursus di PPK, kerana ada kerja penting diluar yang berlaku semasa kelas diadakan.

Saya amat bersyukur kerana berjaya menyelesaikan pembelajaran saya dalam Katekis Tahap 1,  saya amat bersuka cita, kerana sebelum ini saya amat risau,  saya akan gagal. Ilmu rohani yang baru ini menjadikan diri saya sebuah peribadi baru. Terima kasih kepada semua tenaga pelajar.  –Lawrance Yong

 


 

KURSUS PENSIJILAN KATEKIS TAHAP 2 (2016-2017)

 

 

Imelda

Saya melayani sebagai pembimbing dan lektor di sebuah gereja stesen luar Paroki KSFX, Gereja St.Yohanes Penginjil Panui.

Setiap kursus yang ditawarkan oleh pihak PPK ini sangat relevan bagi semua peserta kursus. Bagi saya secara peribadi, ia sangat membantu dan setiap sesi itu sangat menarik

Mengikuti kursus di PPK yang pada mulanya suka-suka tetapi lama-kelamaan setelah mengikuti beberapa sesi membuatkan saya sangat tertarik dan komited untuk  terus belajar. Bukan sahaja belajar di kelas tetapi juga pendedahan dalam menyampaikan katekesis di luar juga memberi keyakinan kepada diri sendiri untuk mewartakan khabar baik kepada sesama. Ia adalah satu pengalaman yang sangat indah.

Banyak cabaran yang dihadapi selama berkursus terutama sekali kekangan masa. Pengorbanan dan disiplin itulah yang sangat penting serta melibatkan Tuhan dalam segala perkara.

Harapan saya agar PPK terus membimbing bukan saja kepada katekis pemimpin ibadat tetapi juga kepada semua umat yang ingin menambah pengetahuan kerana PPK sentiasa menyediakan tawaran kursus yang menarik.-Imelda Goniur  Denis

 
 
Marysia
Saya melayani dalam katekatikel, liturgi dan pelayan Komuni di sebuah gereja stesen luar Paroki KSFX, Gereja St.Yohanes Penginjil Panui.
 
Pengalaman semasa belajar di PPK sangat banyak. Antaranya ialah pembelajaran mengenai Alkitab, undang-undang gereja dan bagaimana untuk melayani sebagai katekis. Banyak pengetahuan yang diperolehi, walaupun sudah lama melayani di gereja. Terutama sekali mengenai undang-undang gereja dalam buku Hukum Kanonik, sakramen-sakramen dan banyak lagi.
 
Cabaran belajar di PPK? Semasa memberikan katekisis di gereja-gereja stesen luar kerana kateksisi itu harus di sampaikan dengan penuh persiapan dan keyakinan diri. Teman- teman seperjuangan pula semua berkerjasama sepanjang berkursus di PPK.
 
Terima kasih kepada tenaga pengajar PPK, Cg. John, Cg. Fred, Cg. Patrick dan Sr. Patricia yang banyak membantu dan membimbing. Terima kasih juga kepada suami dan anak-anak yang sentiasa memberi semangat sepanjang kursus di PPK. Syukur dan Puji Tuhan juga kerana adanya PPK tempat untuk mendalami iman dan pengetahuan serta kemudahan yang lengkap. –Marysia Michael
 

Flora

Sesi yang banyak membantu saya adalah dalam cara-cara berkatekesis. Semua sesi yang diajarkan oleh tenaga pengajar di PPK  membantu saya untuk meningkatkan pengetahuan saya lebih-lebih lagi dalam menguatkan iman saya. Dalam kelas yang dibimbing oleh Cg. John, saya banyak belajar bagaimana berkatekesis di depan umat, dalam ibadat mingguan atau sesi katekesis singkat.

Perubahan yang dialami setelah mengikuti kursus ini, saya lebih keyakinan diri dan ada rasa keberanian dalam pelayanan.

Pembahagian masa merupakan satu cabaran bagi saya, kadang-kadang masa saya berkerja dan jadual pembelajaran di PPK sering bertembun. Oleh itu, terdapat sesi permbelajaran di PPK yang saya tidak dapat ikuti.

Saya berharap agar pembelajaran seperti ini diteruskan untuk membentuk katekis-katekis  yang sentiasa teguh dan setia dalam pelayanan. Semoga pelayanan para katekis akan menjadi lebih mantap dalam menjalankan pelayanan di bawah naungan Paroki KSFX –Flora Yohanes

 

MorrisSesi yang sangat membantu adalah melalui topik “Allah Bapa mendampingi umatnya.” Sesi ini membantu saya untuk memahami bagaimana Alkitab ditulis dan dijelaskan. Pengertian yang tersirat dalam setiap ayat dan pengajaran yang boleh diperolehi.

Sebagai peserta kursus, hidup seseorang itu pasti ada perubahan, iman semakin teguh, keyakinan diri untuk berdepan dengan umat dan sentiasa bersikap rendah diri.

Semasa  belajar di PPK, memang cabaran itu ada. Perlu ambil masa untuk membaca dan merenung Firman Tuhan. Walaupun sibuk, harus ambil masa untuk menghadiri kuliah, sebab kesibukan itu bukan alasan. Masalah itu juga bukan satu alasan untuk tidak hadir kelas di PPK, sebab masalah itulah sebenarnya masa untuk Tuhan.

Perjalanan kursus sekarang ini adalah yang terbaik cuma perlu ada sedikit penambahbaikkan. Cadangan agar pembelajaran tentang Alkitab di perbanyakkan lagi terutamanya kitab Injil. Pelajar juga harus  didedahkan  dengan banyak praktikal berkhotbah atau berkatekesis. –Morris Jinni

 
 

Mok Saya melayani sebagai katekis Komuniti Cina KSFX, pembimbing Inisiasi Kristiani, Krisma dan PMG, pelayan sabda Misa Harian dan Misa Cina, pelayan karismatik di Paroki KSFX.

Sesi yang sangat memberi manfaat kepada saya adalah kaedah-kaedah menyampaikan khotbah. Oleh itu, saya menyedari bahawa penyampaian khotbah bukan memberi pengertian kepada firman Tuhan secara teologika, tetapi lebih mementingkan cinta kasih dan belas kasih Tuhan dalam kehidupan umat setiap hari. Saya juga didedahkan agar membuat persiapan sebelum memberi khotbah, katekisis atau perkongsian di mana melalui pembacaan firman disertakan dengan renungan, memilih tema yang sesuai, merancang dan menstrukturkan khotbah.

Impak terbesar yang saya alami setelah menamatkan kursus ialah pelayanan bukanlah sekadar pengetahuan yang dperolehi tetapi ianya adalah kehendak dan panggilan Tuhan. Merendahkan hati dan sikap serah diri kepada Tuhan perlu ada. Selain itu, saya juga menyedari bahawa manusia ada batasan kekuatannya dan perlu berdoa kepada Tuhan sebagai sumber segala kekuatan.

Oleh kerana saya adalah umat awam yang juga kerja untuk mendapatkan rezeki harian saya, maka banyak masa dan tenaga adalah kerja hakiki saya sebagai seorang pendidik. Apabila sampai masa menghadiri sesi pembelajaran di Pusat Pastoral Keningau, kadang-kala saya berada dalam keadaan yang letih lesu dan masih memikirkan kerja-kerja saya yang belum selesai. Kesibukan ini juga membuatkan saya tidak menyiapkan kerja kursus dengan sempurna. Pemahaman saya terhadap isi kandungan pelajaran pun bukan sepenuhnya, banyak lagi perlu saya dipelajari. Walaupun sudah tamat kursus, bukan tamatnya pembelajaran, perlu tingkatkan lagi usaha saya.

Penambahbaikan yang saya cadangan adalah mewujudkan bilik pembelajaran yang lebih kondusif, seperti meja dan kerusi yang mencukupi, pencahayaan yang baik dan penghawa dingin yang perlu diselenggara dari semasa ke semasa. Di samping itu, mengaktifkan perpustakaan PPK supaya buku-buku dan sumber rujukan yang ada boleh dipinjam atau dirujuk. Penggunaan sumber atas talian atau platform media sosial juga harus diperluaskan. Sekian terima kasih. –Martin Mouk

 

 
 

DUA KEWARGANEGARAAN, DUA KEWAJIPAN, SATU HATI

HARI MINGGU BIASA KE 29 (A)

Bc.1. Yes. 45:1.4-6          Bc.2. 1Tes. 1:1-5b          Bc.3. Mat. 22:15-21

Hidup manusia adalah anugerah paling indah dari Tuhan. Selama masih hidup merupakan kesempatan bagi kita untuk mencari dan memaknai kehidupan. Itulah tanggungjawab kita sebagai umat yang sudah ditebus oleh Darah Yesus Kristus. Tanggungjawab itu harus dilaksanakan dengan semangat pengabdian kepada Allah. Kerana Dialah sumber kehidupan dan dari Dialah asal-muasal bagi semua yang ada di dunia ini. Namun kita sering lalai dalam melaksanakan tanggungjawab itu. Kita lebih tertarik mengurus kehidupan duniawi daripada kehidupan rohani, padahal kehidupan rohani lebih penting daripada kehidupan duniawi

Dua Kewarganegaraan, Dua Kewajipan, Satu Hati

Sebagai umat yang hidup di sebuah negara, kita memiliki dua kewarganegaraan iaitu warganegara politik (dunia) dan warganegara rohani (surgawi). Kita yang hidup di Negara Malaysia bererti kita adalah warganegara Malaysia namun sekaligus warganegara dalam Kerajaan Allah. Memiliki dua kewarganegaraan bererti memiliki dua kewajipan iaitu kewajipan terhadap negara dan kewajipan terhadap Tuhan. Dua sisi kehidupan perlu diberi perhatian iaitu kehidupan sebagai rakyat di sebuah negara (hidup duniawi) dan kehidupan sebagai umat yang beriman kepada Tuhan (hidup rohani). Kedua-duanya harus dipatuhi serta dilaksanakan dengan sepenuh hati, kerana kedua-duanya merupakan satu pengabdian. Harus dilaksanakan dengan satu hati, iaitu hati  yang penuh ikhlas, penuh kasih, penuh sukacita dan syukur, serta hati yang teguh iman, harapan dan kasih.

Hal itulah yang ingin Yesus tegaskan ketika menjawab pertanyaan dari orang-orang Farisi yang ingin menjerat-Nya. Latar belakang pertanyaan orang Farisi adalah mereka ingin mencari kesalahan Yesus agar mereka memiliki alasan untuk menangkap-Nya. Mereka menyangka Yesus akan menjawab antara “ya” atau “tidak” terhadap pertanyaan yang mereka ajukan. Jika Yesus menjawab “ya”, kemarahan akan muncul kerana mereka mengalami penderitaan akibat pemerintahan Romawi. Sedangkan jawapan “tidak” akan memunculkan kemarahan pemerintahan Romawi.

Yesus mengetahui maksud pertanyaan mereka, sebab itu Ia menegur keras kejahatan dan kemunafikan hati mereka. Yesus kemudian menjawab pertanyaan mereka secara bijaksana (Mat 22:18-21) sehingga berhasil mengalahkan niat hati mereka yang jahat dan memperlihatkan kemunafikan mereka (Mat 22:22).

Jawapan Yesus terhadap pertanyaan orang-orang Farisi mengajarkan kita tentang eksistensi kita sebagai orang Kristian agar dapat menempatkan diri sebagai warganegara Malaysia dan sebagai warganegara Kerajaan Allah secara tepat dan benar. Sebagai warganegara Malaysia kita memiliki kewajipan untuk memberikan sesuatu demi kebaikan dan perkembangan masyarakat, bangsa dan negara. Demikian juga terhadap Gereja, kita semua dipanggil untuk memberi sumbangan (dalam bentuk apa pun) demi kebaikan, kemajuan dan perkembangan umat, komuniti, dan Gereja. Apakah kedua kewajipan itu harus dilakukan secara terpisah? Ya perlu dilakukan secara terpisah, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21). Dengan alasan ini, urusan negara/politik sebenarnya tidak boleh dicampurkan dengan urusan agama.

Kedua-dua kewajipan itu harus dilakukan dengan satu hati iaitu satu semangat pengabdian kepada Allah. Dengan semangat pengabdian kepada Allah, kita akan dapat melaksanakan kewajipan secara tepat dan benar sebagai warganegara Malaysia. Dua kewajipan tersebut adalah realiti kehidupan kita yang memiliki dua dimensi iaitu hidup di dunia sebagai warganegara pada suatu kerajaan politik dunia, dan hidup sebagai warganegara pada kerajaan spiritual (rohani) iaitu Kerajaan Allah. Kita tidak dapat lari dari kedua realiti kehidupan tersebut. Kita tidak dapat hanya tertumpu atau peduli pada kehidupan duniawi sahaja. Kita juga perlu memberi perhatian yang baik terhadap kehidupan rohani, sebab kehidupan di dunia hanya sementara namun kehidupan selepas kematian adalah kehidupan kekal.

Cara kita menjalani masa penziarahan di dunia akan menentukan situasi kehidupan kita kelak setelah kematian. Kunci kehidupan kekal ada dalam tangan kita masing-masing, “Apa yang kau ikat di dunia akan terikat di surga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:19).

Oleh kerana itu lakukan segala sesuatu dengan motivasi yang murni, kerana Tuhan melihat kita. Lakukan tanggung jawab sebagai warganegara Malaysia dan Kerajaan Allah dengan tepat dan benar serta sesuai dengan kehendak Allah. Sesuai dengan kehendak Allah bererti selaras atau sesuai dengan rencana penyelamatan Allah dan sesuai dengan kebaikan dan keadilan-Nya.


Cadangan Soalan untuk Refleksi peribadi dan perkongsian Komuniti Kristian Dasar (KKD)

  1. Apakah selama ini anda sudah memahami erti dan makna kehidupan ini?
  2. Sebagai warganegara Malaysia, apakah anda memiliki semangat Patriotik dan Nasionalisme melebihi semangat anda terhadap Kerajaan Allah? Renungkanlah, “barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku,….Ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Jika tumpuan kita lebih banyak kepada hidup sebagai warganegara Malaysia daripada sebagai warganegara Kerajaan Allah, kita tidak layak bagi-Dia. Lalu apa yang harus kita lakukan?

 

Allah Bapa Yang Mahamurah, kami bersyukur kerana Putera-Mu telah rela menjadi santapan bagi jiwa kami. Semoga berkat kehadiran dan bantuan-Nya kami sanggup melaksanakan tugas perutusan kami untuk mengabdi Engkau dan melayani sesama. Sebab, Dialah Tuhan, Pengantara kami.

BANYAK YANG DIPANGGIL, SEDIKIT YANG DIPILIH.

HARI MINGGU BIASA KE 28

Bc.1. Yes. 25:6-10a          Bc.2. Flp. 4:12-14. 19-20          Bc.3. Mat. 22:1-14

Hidup di dunia memang banyak pilihan. Manusia lebih cenderung memperhatikan hal-hal yang menguntungkan diri-Nya. Misalnya, orang akan memilih untuk meneruskan kerjanya daripada datang ke majlis perkahwinan, kerana meneruskan kerja lebih menguntungkan daripada menghadiri majlis perkahwinan. Injil hari ini, melalui perumpamaan perjamuan kahwin, kita diingatkan supaya lebih bijaksana dalam membuat keputusan terhadap panggilan (undangan) Tuhan.

Banyak yang Dipanggil, Sedikit yang Dipilih

Perumpamaan perjamuan kahwin adalah tentang Kerajaan Surga. Raja itu adalah Allah, Raja yang agung,, Raja di atas segala Raja. Perjamuan kahwin diadakan untuk anak-Nya, dengan Kristus sebagai mempelai laki-laki dan jemaat adalah pengantin perempuan. Hal tersebut mengungkapkan Kasih Allah Bapa terhadap bangsa manusia. Ungkapan Kristus sebagai mempelai laki-laki dan jemaat sebagai mempelai perempuan merupakan ungkapan kasih dan hubungan mistik Allah dengan jemaat yang disebut Gereja.

Allah yang mengadakan Perjamuan Kahwin anak-Nya mengundang para tamu. Para tamu tersebut adalah anak-anak manusia yang dikasihi-Nya yakni jemaat. Hamba yang disuruh untuk mengundang para tamu adalah para utusan Allah, mereka adalah para nabi, hakim dan raja di Perjanjian Lama. Setelah para hamba pertama tidak didengar oleh para tamu yang diundang, diutus pula hamba yang lain yakni Yohanes Pembaptis dan Para Rasul di Perjanjian Baru. Malangnya para tamu tidak mendengar undangan bahkan hamba-hamba yang diutus ditangkap, diseksa dan dibunuh. Hal ini menggambarkan sikap orang yang tidak percaya kepada panggilan dan pewartaan Injil seperti para imam dan orang Farisi, serta sebahagian dari orang Yahudi pada waktu itu.

Kerana perjamuan sudah siap dan harus ada para tamu, maka Raja (Allah) mengutus hamba supaya mengundang siapa saja yang dijumpainya di persimpangan jalan. Orang yang dijumpai di persimpangan jalan adalah orang berdosa. Justeru orang inilah yang telah mendengar  dan datang ke undangan perjamuan kahwin.

Pewartaan dan pelayanan Injil yang dilakukan oleh Gereja adalah undangan kepada semua umat untuk datang dan hidup bersatu dengan Kristus, sang mempelai laki-laki. Mungkin saja pada zaman sekarang semua umat akan menyahut undangan tersebut. Pada hakikatnya Allah tidak memilih sebaliknya Dia memanggil semua orang yang dikasihi-Nya (orang yang dikasihi-Nya adalah para tamu). Tetapi tidak semua yang dipanggil (diundang) tidak menyahut panggilan.

Para tamu pertama yang diundang umpama orang-orang besar, orang kaya, berstatus, para pemimpin, termasuk juga sebahagian besar aktivis rohani. Orang yang menganggap dirinya saleh dan suci juga termasuk para tamu pertama yang diundang. Ketika Injil diwartakan, mereka bukan tidak mendengar, tetapi hati mereka keras dan tertutup kerana kecenderungan untuk bertahan dalam keadaan mereka. Dalam ayat yang lain, mereka memiliki sikap yang dingin (tidak begitu peduli) terhadap pewartaan Injil (undangan). Umpama biji yang jatuh di jalan dan di atas tanah yang berbatu (Mrk 4:4-5). Hal lain yang menyebabkan kurang peduli terhadap panggilan (undangan) tersebut adalah kerana memiliki atau memilih hal yang dianggap lebih menguntungkan seperti harta, pekerjaan dan hiburan. Kecenderungan hati untuk lebih mempedulikan hal-hal duniawi menyebabkan kehidupan rohani tidak dipedulikan. Kekeringan rohani atau krisis iman dan krisis moral juga menyebabkan kurang keyakinan pada pengharapan iman sehingga menutup dirinya untuk mengalami kasih Allah.

Orang yang dijumpai di persimpangan jalan adalah mereka yang disebut sebagai orang-orang kecil dalam Perjanjian Baru. Ini adalah tanda kasih Allah kepada orang-orang berdosa. Perjamuan yang begitu meriah namun para tamu yang hadir adalah dari golongan orang-orang kecil (berdosa). Hal ini tidak bererti yang layak masuk dalam kerajaan Surga adalah hanya orang-orang berdosa. Tetapi semua orang yang siap datang ke undangan perjamuan. Orang yang siap ke undangan perjamuan adalah mereka yang memiliki keikhlasan hati untuk menyahut panggilan Tuhan dan memiliki kepedulian terhadap hidup rohaninya. Tidak kira apa pun status atau siapa pun tetapi yang lebih utama adalah keterbukaan hati untuk datang kepada Tuhan. Orang yang sudah datang ke perjamuan tetapi tidak memakai pakaian pesta (Mat 22:11) umpama mereka yang “siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang” (Luk 9:62), dan benih yang jatuh di samak duri (Mat 7:16). Hati mereka masih dipenuhi dengan kekhuatiran, tidak yakin dan tidak memiliki pengharapan akan kebaikan serta belas kasihan Allah.

Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih!. Ayat ini bukan bererti Allah memilih siapa yang layak. Tetapi perlu disedari bahawa Allah memanggil seluruh jemaat untuk datang kepada-Nya. Dalam hal ini Allah tidak menjadikan seorang itu layak atau tidak layak tetapi orang itu sendirilah yang menjadikan dirinya tidak layak dan tidak memilih. Pada masa yang sama, Allah tidak pernah lelah untuk terus memanggil (mengundang) para tamu-Nya (jemaat), tetapi tidak semua menyahut panggilan Tuhan. Ada yang lebih mementingkan hal-hal duniawi daripada hal surgawi. Ada yang lebih peduli pada kehidupan duniawi daripada kehidupan rohani. Ada pula yang tidak terbuka pada bimbingan Roh Kudus, hati nuraninya buta.

Oleh hal yang demikian, kesiapan dan keterbukaan hati yang ikhlas diperlukan untuk menyahut panggilan (undangan) Tuhan. Harus datang dan mengikuti Yesus Kristus dengan sepenuh hati (Mat 10: 37-42). Memiliki keyakinan dan pengharapan akan “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemulian-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp 4:19).


Cadangan Soalan untuk Refleksi peribadi dan perkongsian Komuniti Kristian Dasar (KKD)

Mungkin dalam hidup, kita pernah tidak menghadiri suatu majlis penting. Kita mendapat undangan tetapi kita tidak datang. Kita pasti merasa tidak senang kerana sudah diundang tetapi tidak datang. Kemudian setelah ada kesempatan berjumpa dengan orang yang mengundang, kita akan minta maaf. Bagaimana pula sikap kita terhadap undangan Tuhan? Setiap hari Tuhan mengundang kita untuk berjumpa dengan-Nya melalui doa dan pelbagai jenis aktiviti rohani? Adakah anda sering melupakan undangan Tuhan tersebut? Terutama hari minggu. Tuhan mengundang kita untuk datang ikut serta dengan-Nya melalui perayaan Ibadat Sabda atau Ekaristi, apakah kita selalu siap sedia datang ke undangan Tuhan?


Allah Bapa di syurga, semoga kerajaan-Mu datang di dunia dalam kejujuran dan persaudaraan. Semoga nama-Mu menghimpun semua orang di suatu rumah di mana Yesus menjadi batu sendinya yang kukuh dan kuat. Sebab Dialah Tuhan dan Pengantara kami.

HARI PENAUNG GEREJA ST. MATIUS KG. KOROLOK, KEMABONG

Hari penaung (KEMABONG)
 
Pada 24 September 2017, sambutan Hari Santo Penaung bagi Gereja St. Matius telah diadakan buat pertama kalinya. Disempurnakan oleh Rev. Fr. David Mamat. Gereja yang baru dibina 3 minggu lepas itu boleh memuatkan seramai 50 orang.    Kg. Korolok adalah umat baru di daerah Kemabong yang baru disenaraikan. Penduduk seramai 30 keluarga, jauh dari kawasan Pedalaman di Zon Rundum.   Kini mereka sudah memiliki Gereja sementara yang diperbuat dari bahan asas semula jadi iaitu kayu dan buluh.